Total Tayangan Laman

Senin, 30 Januari 2012

BAWOR DAN WONG BANYUMAS


Bawor  ; Amin Collection


Bawor, Simbol Wong Banyumas
                                       Di kalangan masyarakat Banyumas, tokoh Bawor dalam pewayangan menjadi ikon penting. Penetapan secara tidak tertulis ini bermula dari ide Bambang S Purwoko, salah satu tokoh pemerhati kebudayaan Banyumas pada tahun 1987, dan direstui Bupati Banyumas kala itu, Djoko Soedantoko. Hal ini terungkap dari wawancara yang dilakukan dengan Bambang S Purwoko tanggal 18 November 2009.
            Tokoh Bawor dalam pakem pedalangan Layang Purwacarita yang menjadi pedoman dasar  cerita (pakem) pedalangan gagrag (gaya, model) Banyumasan, diceritakan sebagai buah ciptaan dari bayang-bayang Semar, bukan anak keturunan Semar. Konon, Bawor diciptakan oleh Sang Hyang Tunggal dari bayang-bayang Semar untuk menjadi teman seperjalanan menuju tempat tugasnya di ngarcapada (alam dunia versi wayang).
            Secara etimologis, ‘Bawor’ berasal dari bahasa Kawi yaitu ‘Ba’ artinya ‘sunar’ (cahaya atau sinar)  dan ‘Wor’ artinya awor (campur). Artinya campuran dari cahaya terang dan gelap. Cahaya terang yang terhalang oleh suatu benda sehingga bercampur dengan cahaya gelap dan memunculkan bentuk berupa bayang-bayang. (Budiono Herusatoto, 2008:198)

            Bentuk tubuh Bawor mirip dengan bentuk tubuh Semar yang nyaris bulat (tambun). Kepala Bawor berambut bkoak, jidat nonong, perut bulat berpusar bodong, suaranya besar dan berat, namun dalam setiap penampilannya selalu menjadi tokoh yang dihormati dan pendapatnya dipercaya oleh adik-adiknya; Gareng dan Petruk.

Orang Banyumas ?

            Secara umum menurut budayawan Ahmad Tohari (Rini Fidiyani, 2008:88) yang menjadi ciri khas lageyan (pola tingkah)  Bawor menggambarkan watak :
1.      Sabar lan narima. Meski dalam cerita sosok ini sering menjadi bahan tertawaan karena wujud fisiknya yang jelek dan suara khasnya, sering disepelekan orang lain, ia digambarkan tetap sabar tak pernah marah. Bahkan dengan keluguannya, ia selalu memberikan ide-ide cemerlang dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.
2.      Berjiwa ksatria. Sosok ini dikenal selalu berbicara jujur,  toleran, rukun, suka membantu orang lain, dan selalu mendahulukan kepentingan bersama.
3.      Cancudan dan ringan tangan. Bawor digambarkan sebagai sosok yang  rajin dan cekatan dalam setiap tindakannya.
4.      Cablaka, lahir batinnya terbuka terhadap pertimbangan yang matang dari apa yang diucapkannya secara spontan dengan bahasa yang lugas tanpa tedeng aling-aling atau basa-basi.
            Orang Banyumas mengaku dirinya seperti Bawor karena filosofi sifat dan sikapnya tersebut. Hal ini antara lain terbentuk oleh faktor adoh ratu cedhek watu (jauh dari raja dan hanya dekat dengan batu). Artinya, jauh dari tata pergaulan kraton, hanya dekat dengan kehidupan alam yang keras. Bicaranya saja dengan bahasa Jawa kluthuk (bersahaja, asli kuno), sing pating mblekuthuk (saling menimpali adu keras seperti suara air mendidih). Lageyane, anggeren kumpul toli bleketupuk (kebiasaannya bila sudah berkumpul sesama wong Banyumasan lalu asyik  berbicara dengan akrab sehingga tidak ingat sekitarnya). Bila sudah seperti itu, tentu tidak ada lagi unggah-ungguh (sikap sopan santun) yang sesuai dengan tata krama.
            Bawor yang dijadikan teladan bagi wong Banyumas dan menjadi simbol masyarakat digambarkan sebagai sosok dengan sifat sabar, rajin, jujur, dan ksatria. Terlepas dari sifat buruknya yang meminta-minta (clamit), sifat bersahaja semacam itulah yang menjadi cerminan wong Banyumas.
Dr. Tanto Sukardi, M. Hum, dosen sejarah lokal UMP tidak setuju bila tokoh Bawor dianggap sebagai simbol wong Banyumas. Sifat buruk clamit itulah yang menurutnya tidak sesuai dengan sifat dasar masyarakat Banyumas (hasil wawancara tanggal 28 Oktober 2009). Senada dengan itu, Subur Widadi yang adalah seorang dalang juga menolak penokohan Bawor sebagai simbul masyarakat Banyumas. Menurutnya, yang tepat dijadikan simbol adalah tokoh Bima, yang dikenal gagah berani dan bersifat ksatria (Rini Fidayani, 2008: 89-90). Meski demikian, tokoh Bawor tetap dianggap sebagai ikon Wong Banyumas sampai saat ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar