Total Tayangan Laman

Kamis, 21 Maret 2013

PERLAWANAN MENENTANG KOLONIALISME DAN IMPERIALISME BARAT DI INDONESIA



      Perlawanan menentang kolonialisme dan imperialisme Barat sebagai reaksi terhadap pengaruh kolonialisme dan imperialisme yang sangat merugikan baik dari segi politik, ideologi, sosial, ekonomi maupun budaya di Indonesia, dapat dikelompokkan dalam dua periode besar menurut kontek waktu. Pertama, perlawanan terhadap para pedagang Barat yang berpolitik, seperti para pedagang Portugis, VOC dan EIC yang terjadi sepanjang abad ke –16 sampai akhir abad ke –18.  Kedua, perlawanan terhadap pemerintahan Hindia-Belanda sejak abad ke –19.
      Perlawanan menentang kolonialisme dan imperialisme ini dilakukan oleh pihak kerajaan, elit lokal dan rakyat dengan motif dan bentuk gerakan yang berbeda. Satu hal yang pasti, perlawanan ini muncul seiring dengan perluasan kolonialisme dan imperialisme Barat di berbagai wilayah di Indonesia.

A.   PERIODE SEBELUM ABAD KE -18

            1.   Dipati Unus   (1518 – 1521)
            Hanya kurang lebih satu tahun setelah kedatangan Portugis di Malaka ( 1511 ), perlawanan terhadap dominasi Barat mulai muncul. Jatuhnya Malaka ke pihak Portugis sangat merugikan jaringan perdagangan para pedagang Islam dari kepulauan Indonesia. Aktivitas perdagangan para pedagang Islam di selat Malaka terhenti dan para pedagang Islam mencari jalan sendiri lewat pantai barat Sumatera untuk menjalin hubungan dengan pedagang-pedagang Islam di sebelah Barat Indonesia. Di samping itu, kedudukan kerajaan Islam di Indonesia merasa terancam oleh pengaruh Portugis di Malaka. Kenyataan, kedatangan Portugis tidak hanya untuk berdagang tetapi juga untuk menyebarkan agama Khatolik dan menguasai.
            Solidaritas sesama pedagang Islam terbangun saat Malaka di bawah kekuasaan Sultan Mahmud Syah jatuh ke pihak Portugis. Kerajaan Aceh, Palembang, Banten, Johor dan Demak bersekutu untuk menghadapi Portugis di Malaka. Keterlibatan Demak juga dikarenakan banyak komoditas dari Demak melalui pelabuhan Jepara ikut dirugikan sejak Malaka dikuasai Portugis. Pasukan dari Demak dipimpin langsung oleh putra mahkotanya, yaitu Dipati Unus siap menyerang Portugis di  Malaka.
            Dipati Unus atau Yunus adalah putra Raden Patah penguasa kerajaan Demak di Jawa. Dipati Unus mendapat sebutan “Pangeran Sabrang Lor “ karena jasanya memimpin armada laut Demak dalam penyerangan ke Malaka. Pemerintahan Pangeran Sabrang Lor tidak berlangsung lama, dari tahun 1518 – 1521

            Pada tahun 1513, Demak mengerahkan kekuatan 100 kapal perang dengan ribuan prajurit untuk bergabung dengan pasukan dari Banten, Palembang, Aceh dan Johor. Armada Demak mengambil rute melalui Banten bersama-sama armada Banten lewat selat Sunda - Pantai Barat Sumatera - Aceh -Selat Malaka –Malaka. Jadi penyerangan armada Demak dan kawan-kawan dilakukan dari arah utara ( lor ). Karena faktor jarak yang begitu jauh dan peralatan perang yang kurang seimbang serta strategi perang kurang jitu, penyerangan tidak berhasil.
            Kegagalan mengusir Portugis di Malaka ini membuat Demak harus semakin waspada dari ancaman Portugis. Untuk itu Demak lebih meningkatkan pertahanannnya dengan menambah jumlah kapal perang dan prajurit. Terutama pada saat Dipati Unus naik tahta pada tahun 1518 menggantikan ayahnya, Raden Patah . Baru berlangsung sekitar 3 tahun, Dipati Unus jatuh sakit dan wafat tahun 1521. Pati Unus meninggal tanpa memiliki keturunan, oleh karena itu yang berhak menggantikan kedudukannya adalah adiknya, Raden Trenggono.

  1. Sultan Baabullah ( 1570 – 1583 )
Maluku merupakan daerah yang kaya rempah-rempah terutama pala dan cengkih. Banyak pedagang dari Jawa, Aceh, Arab dan Cina datang membeli rempah-rempah di Maluku, khususnya di Ternate.Posisi kerajaan Ternate menjadi penting pada masa itu.
Kedatangan Portugis ( 1512 ) dan Spanyol ( 1521 ) di Maluku merupakan awal malapetaka mengarah terpecah belah dan kesengsaraan. Pada tahun 1535 , Portugis di Ternate bertindak sewenang-wenang dengan menurunkan secara paksa raja Tabariji .
Raja Tabariji berkuasa tahun 1523 – 1535. Tabariji diasingkan Portugis ke Goa dipaksa untuk murtad. Jordao de Freitas, orang Portugis yang berhasil mengkristenkan Tabariji dengan nama baptis Dom Manuel. Pada tahun 1545  Tabariji meninggal dengan sempat memberi janji  menyerahkan Ambon pada Portugis.

            Sultan Khaerun yang pada saat itu berkuasa di Ternate menolak keras pernyataan Gubernur de Mesquita pimpinan Portugis untuk   :
  1. Menyerahkan Ambon
  2. Memonopoli perdagangan
  3. Agar membatasi bahkan mencegah kapal-kapal dagang selain Portugis.
Sultan Khaerun tetap memberi kebebasan kepada kapal-kapal dagang dari Aceh, Persia, Gujarat, Demak dan Gresik untuk berdatangan ke Ternate membeli cengkih, pala dan lada. Sultan Khaerun membangun terus armada lautnya dengan membeli kapal-kapal dari Gresik  dan senjata baru dari Aceh dan Turki.
            Portugis memandang tindakan Sultan Khaerun sangat membahayakan monopoli perdagangannya. Oleh karena itu, pada tanggal 17 Februari 1570, dengan licik Portugis menawarkan tipu perdamaian. Sehari setelah sumpah damai di paraf, de Mosquita mengundang Sultan Khaerun menghadiri pesta perdamaian di benteng. Tanpa curiga Sultan Khaerun hadir dan dibunuh di dalam benteng.
            Peristiwa ini menimbulkan kemarahan besar bagi rakyat Maluku dan terutama Sultan Baabullah .Bersama rakyat, Sultan Baabullah bertekad menggempur Portugis. Gelombang perang besar segera melanda lautan dan daratan Ternate.  Bergandeng dengan Tidore yang semula musuh, menyerang dan menghancurkan  benteng Portugis di Ambon.
Sultan Baabullah ( 1570 – 1583 ) adalah putra Sultan Khaerun ( 1550 – 1570 ) berhasil mengusir Portugis dari bumi Maluku dan  mengantarkan Ternate mencapai puncak kejayaan . Wilayah Ternate sampai ke daerah Philipina bagian selatan .

Kemudian pasukan Sultan Baabullah memusatkan penyerangan untuk mengepung benteng Portugis di Ternate. Lima tahun lamanya orang Portugis mampu bertahan di dalam benteng yang akhirnya menyerah pada tahun 1575 karena kehabisan bekal. Penurunan bendera Portugis sebagai lambang kekalahan yang kemudian sebagian dari mereka diberi kebebasan  pergi menuju Timor-Timur.

3.   Panglima Fatahillah  ( 1527 – 1570 )

Pada tahun 1521, Pasai berhasil diduduki oleh armada Portugis yang mula-mula hanya untuk berdagang, tetapi kemudian berusaha menyebarkan agama Khatolik dan menjajah. Fatahillah tidak rela melihat tanah tumpah darahnya diduduki bangsa asing. Ia tidak mau hidup di bawah perintah orang asing, namun untuk melawan belum memungkinkan.
Fatahillah dilahirkan sekitar tahun 1490 di Pasai, Sumatera Utara. Nama lain Fatahillah adalah Falatehan, Fadhilah Khan, Ratu Bagus Pase dan  Ratu Sunda Kelapa. Ayahnya bernama Maulana Makhdar Ibrahim selaku guru agama Islam di Pasai kelahiran Gujarat, India Selatan

Berkat kemauan yang keras dan ikhtiar yang terus menerus, Fatahillah berlayar menuju tanah suci Arab. Tujuan utama untuk menunaikan ibadah haji, menggembleng diri memperdalam ilmu agama dan menambah kecakapan yang lainnya seperti olah bela diri dan strategi perang. Tiga tahun telah berlalu, saat pulang ke Pasai ternyata orang Portugis masih bercokol. Dengan hati berat Fatahillah tidak mendarat melainkan melanjutkan perjalanan menuju pulau Jawa.
Pada sekitar tahun 1525, Fatahillah mendarat di pelabuhan Jepara, pelabuhan utama kesultanan Demak. Sultan Demak waktu itu adalah Sultan Trenggono, menyambut baik kedatangan dan maksud Fatahillah. Sultan sangat mengagumi fatahillah atas kedalaman ilmunya, kecakapan dan keberaniannya. Tanpa ragu Sultan Demak mengangkat fatahillah sebagai guru agama di lingkungan istana, penasehat Sultan dan panglima perang tentara Demak.
Sultan Trenggono sangat mendukung cita-cita Fatahillah untuk menyebarkan agama Islam ke seluruh pulau Jawa. Pada tahun 1526, Fatahillah di Banten dengan bantuan Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati, berhasil mengislamkan masyarakat Banten tanpa kekerasan. Rakyat Banten menerima agama Islam dengan penuh keikhlasan dan kesadaran.  Selanjutnya pada tahun 1527, Sunda Kelapa dapat di kuasai. Fatahillah diangkat oleh Sultan Trenggono sebagai wakil Sultan Demak yang memerintah di Banten dan Sunda Kelapa.
Ketika orang Portugis di bawah pimpinan Fransisco De Sa tiba di Sunda Kelapa tahun 1527, terjadilah pertempuran hebat dengan laskar Fatahillah. Portugis berhasil diusir dari Sunda Kelapa, sejak tanggal 22 Juni 1527 nama Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta atau Jakarta yang berarti ‘kemenangan yang sempurna’. 

  1. Sultan Iskandar Muda  ( 1607 - 1636 )
Sultan pertama kerajaan Aceh adalah Ali Mughayat Syah ( 1514 –1530 ). Selama masa pemerintahannya, sebagian besar komunitas dagang Asia yang bubar karena pendudukan Malaka oleh Portugis, singgah dan menetap di Aceh. Pada tahun 1520, Aceh mulai memperluas pengaruhnya dengan menyerang  daerah Daya, Pantai Timur , Deli, Pedir, Pasai, Aru dan Johor.
Tujuan penyerangan Aceh untuk menaklukkan sejumlah daerah adalah  :
1.      Memperluas hegemoni kerajaan Aceh.
2.      Menyebarkan agam Islam ke daerah-daerah yang belum menganut agama Islam.
3.      Menguasai daerah-daerah penghasil lada dan emas.
4.      Membangun pelabuhan produsen yang ingin menyelenggarakan perdagangan bebas.
5.      Persaingan mengganti posisi Malaka sebagai pelabuhan transit di Nusantara bagian barat.
6.      Sebagai negara yang paling kuat di kawasan selat Malaka.

Penguasa Aceh berikut yang tergolong mencapai kejayaan adalah masa Sultan Alaudin Riayat Syah al Kahar ( 1537 – 1571 ).  Dia berhasil menakhlukkan Batak di sebelah selatan Aceh pada tahun 1539. Walaupun penyerangan berikut terhadap Aru yang dikuasai Johor dan terhadap Malaka yang diduduki Portugis mengalami kegagalan, Sultan Alaudin telah menunjukkan ketangguhan sebagai kekuatan militer yang disegani dan diperhitungkan di kawasan selat Malaka.
Pada awal abad ke-17, penguasa terbesar di antara penguasa-penguasa Aceh adalah masa Sultan Iskandar Muda ( 1607 – 1636 ). Aceh benar-benar menjadi kerajaan yang paling kuat di Nusantara bagian barat. Pada tahun 1612, akhirnya Deli, Aru dan Johor berhasil ditaklukkan. Pada tahun 1614, armada Portugis di Bintan berhasil dikalahkan. Pada tahun 1624, Pahang dan Nias  berhasil dikuasai. Pada tahun 1529 , Aceh menggempur Portugis di Malaka dengan sejumlah kapal yang memuat 19.000 prajurit. Pertempuran sengit tak terelakkan yang kemudian berakhir dengan kekalahan di pihak Aceh.
Alasan politik yang menyebabkan Aceh mengalami kemunduran adalah  :
1.      Kalangan elit Aceh atau kelompok bangsawan yang terdiri atas para ‘Panglima
Perang’ ( hulubalang, ule balang )kurang mendukung cita-cita Sultan.
2.      Adanya perpecahan di dalam negeri, dimana para ulee balang menjadi penguasa-
penguasa local ( feodal ).

5.   Sultan Agung Hanyokrokusumo  ( 1613 – 1645 )
            Daerah Mataram  semula merupakan bagian dari wilayah kerajaan Pajang. Bupati Mataram pertama adalah Ki Gede Pemanahan. Pada tahun 1575 , Ki Gede diganti oleh puteranya yaitu Danang Sutawijaya. Sultan Pajang wafat ( Sultan Hadiwijaya ) sekitar tahun 1582, Mataram  menyatakan memisahkan diri dari Pajang. Sutawijaya didampingi penasehatnya Ki Jurumertani, mengukuhkan diri sebagai raja Mataram pertama bergelar Panembahan Senopati.
            Mataram kemudian diperintah oleh putra Panembahan Senopati yang bernama Mas Jolang ( 1601 – 1613 ). Mas Jolang gugur dalam suatu pertempuran sengit di Krapyak, sehingga mendapat sebutan Panembahan Seda Krapyak. Sebagai penggatinya yang sah adalah putranya yang bernama Raden Mas Rangsang  yang untuk selanjutnya dikenal dengan nama Sultan Agung Hanyokrokusumo.
            Sultan Agung di samping cakap sebagai raja juga fasih dalam hal seni budaya, ekonomi, sosial dan perpolitikkan. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa yang berhasil disatukan antara lain Gresik ( 1613 ), Tuban ( 1616 ), Madura ( 1624 ), dan Surabaya ( 1625 ).
            Latar belakang kejengkelan Sultan Agung  (Mataram ) bersitegang dengan kompeni Belanda antara lain  :
  1. Kompeni  Belanda memonopoli perdagangan.
  2. Kompeni Belanda mengingkari Perjanjian 1614.
  3. Kompeni Belanda berkali-kali merampok kapal dagang Mataram.
  4. Kompeni Belanda suka menghina orang Islam dan memperkosa para wanita.

Pada tahun 1614 sebenarnya VOC telah melakukan kontak dengan Mataram ( Sultan Agung ) yang melahirkan Perjanjian 1614, berisi   :
1.       Sultan memperkenankan Kompeni Belanda mendirikan kantor dagang ( loji ) di
      Jepara.
2.       Belanda siap memberikan apa saja yang diminta Sultan Agung.

            Sultan Agung menyadari bahwa Kompeni Belanda tidak dapat dipercaya, ingin mencari enaknya sendiri dan sewenang-wenang. Karena kekesalan itulah Sultan Agung memerintahkan Adipati Jepara untuk menghancurkan loji Belanda di Jepara. Serangan yang dilakukan pada tanggal 8 Agustus 1618 inilah sejumlah kompeni Belanda dan pemimpinnya, Cornelis van Masyck dan Balthasar van Eyndhoven dinyatakan tewas. 
            Selanjutnya, pada tanggal 22 Agustus 1628 pasukan Mataram tidak tanggung-tanggung menyerang Batavia, jantung kekuatan VOC. Serangan pertama Mataram ini dipimpin Tumenggung Baureksa dan Dipati Ukur,  berhasil membunuh 56 orang, 24 luka berat dan 200 orang menyerah dalam penyerbuan terhadap benteng Holland, Parel, Gelderland, Bommel dan Freesland.
Kekuatan Mataram pada serangan pertama ke Batavia tahun 1628   :
1.      Kekuatan armada laut  :
a.      Pendaratan tanggal 22 Agustus 1628, berjumlah 59 kapal dagang.
b.      Tanggal 24 Agustus 1628, armada ke 2 mendarat 7 kapal perang.
c.       Pada tanggal 25 Agustus 1628, pendaratan ke 3 berjumlah   27 kapal
     2.   Serangan darat   :
a.      Tumenggung Baurekso menyerang dari front Timur.
b.      Adipati Ukur menyerang dari front Selatan

            Setelah mendapat serangan bertubi-tubi, Gubernur Jendral VOC,  J.P.  Coen pada tanggal 21 Oktober 1628 mengadakan serangan balasan dengan kekuatan 700 orang yang dipimpin Jaques le Febre. Senopati Tumenggung Baurekso gugur, bantuan dari Mataram yang dipimpin Tumenggung Suro Agul-Agul, Kyai Adipati Manduwa Reja, dan Kyai Adipati Upasanta datang terlambat. Pertempuran ini mengakibatkan banyak korban dikedua belah pihak. Mataram kehilangan 744 orang prajurit, kompeni Belanda kehilangan ratusan serdadunya.            
            Serangan kedua pasukan Mataram  dimulai tanggal 22 Agustus 1629. Pasukan Mataram mengerahkan 130.000 orang prajurit dan semua perbekalan, senjata diatur dengan tertib. Sasaran penyerbuan diarahkan pada benteng Parel, Holland, Robiju, Safier dan Diamant. Benteng-benteng itu dikepung oleh berlapis-lapis prajurit Mataram. Pertempuran serupun terjadi pada tanggal 20 September 1629, kompeni yang bertahan di dalam benteng mulai kehabisan bekal dan peluru. Selain jatuh korban 600 serdadu kompeni,  Gubernur Jendral J.P. Coen juga tewas, yang menurut versi Belanda disebabkan oleh wabah penyakit menular. Meskipun Mataram tidak mutlak berhasil menghancurkan kompeni di Batavia apalagi mengusirnya, tetapi Sultan Agung sudah menunjukkan semangat anti penjajahan asing, khususnya kompeni Belanda.

6.   Sultan Ageng Tirtayasa ( 1651 – 1683 )
            Pada masa pemerintahan Sulten Ageng atau Sultan Tirtayasa merupakan jaman keemasan Kerajaan Banten. Armada Banten di tata dan dibangun mengikuti model Eropa. Kapal-kapal berlayar menggunakan surat jalan Sultan. Orang Banten mampu menjalin transaksi dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Cina, Filipina dan Jepang. Sultan Ageng juga menaruh perhatian terhadap pengembangan agrarisnya. Pada tahun 1663 sampai tahun 1677, dibangunlah sistem irigasi besar-besaran di Banten. Kanal-kanal dibangun sepanjang 30 – 40 km yang mempekerjakan sekitar 16.000 orang. Kanal-kanal ini mampu mengairi 30.000 – 40.000 hektar persawahan dan ribuan hektar perkebunan.  Proyek-proyek ini berguna tidak hanya dalam meningkatkan kekayaan pertanian kerajaan, tetapi juga dalam membawa daerah-daearh pedalaman.

Sultan Ageng memajukan perdagangan luar negeri dan pertanian daerah pedalaman tergolong berhasil. Kincir angin yang paling mutakhir sengaja didatangkan dari Batavia digunakan untuk irigasi. Pada tahun 1620, para pedagang Cina memperkenalkan tebu. Kerajaan Banten menjadi makmur.

            Sultan Ageng merupakan musuh VOC yang tangguh. Pihak VOC ingin mendapatkan  monopoli lada di Banten. Pada tahun 1656 pecah perang, Banten menyerang daerah-daerah Batavia dan kapal-kapal VOC, sedangkan VOC memblokade pelabuhan. Pada tahun 1659 tercapai suatu penyelesaian damai. VOC mencari siasat memecah belah dengan memanfaatkan konflik internal dalam keluarga Kerajaan Banten.
            Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putranya yang bergelar Sultan Haji ( 1682 –1687 ) sebagai raja di Banten. Sultan Ageng dengan Sultan Haji berlainan sifatnya. Sultan Ageng bersifat sangat keras dan anti VOC sedang Sultan Haji lemah dan tunduk pada VOC. Maka ketika Sultan Haji menjalin hubungan dengan VOC, Sultan Ageng menentang dan langsung menurunkan Sultan Haji dari tahtanya.
            Konflik antara ayah dan anak ini dimanfaatkan oleh VOC  dengan menerima permintaan Sultan Haji untuk membantu mengembalikan tahta Kerajaan Banten.   Pihak Sultan Ageng didukung oleh kalangan pemuka muslim baik di Banten sendiri maupun dari luar seperti Makasar, Madura dan Mataram. VOC memerangi Sultan Ageng dan mengejar sampai ke daerah-daerah pegunungan. Pada tahun 1683 Sultan Ageng berhasil ditangkap, ditahan di Banten untuk beberapa lama kemudian dipindah ke Batavia sampai wafatnya tahun 1695. Syekh Yusup Makasar ( 1626 – 1699 ) dari Sulawesi Selatan yang mendukung perjuangan Sultan Ageng berhasil ditangkap pada tahun itu juga, 1683. Syekh Yusup diasingkan ke kawasan Tanjung Harapan, Afrika bagian selatan sampai wafatnya pada tahun 1699.
            Sultan Haji kembali menduduki tahta Kerajaan Banten. Namun sebagian besar wilayah Banten telah diambil alih oleh VOC. Monopoli perdagangan lada di Banten akhirnya dapat dilaksanakan oleh VOC. Sisa-sisa perlawanan menentang VOC terus dilakukan secara gerilya oleh pengikut Sultan Ageng, yaitu Ratu Bagus Boang dan Kyai Tapa.

7.   Sultan Hasanuddin ( 1654 – 1669 )
            Jauh sebelum orang-orang VOC datang, orang-orang suku Makasar dan Bugis sudah terkenal sebagai pedagang dan pelaut yang ulung. Seluruh penjuru Nusantara telah dijelajah dengan perahu-perahu pinisi yang terkenal lincah dan cekatan. Bandar Sombaopu, ibukota kerajaan Gowa-Tallo merupakan pelabuhan transip menawarkan barang-barang lebih murah seperti rempah-rempah, beras, ternak, dan kayu cendana.
           
Di Sulawesi Selatan terdapat banyak rejaan besar dan kecil, seperti  :
1.      Kerajaan Gowa-Tallo adalah kerajaan orang-orang suku Makasar
2.      Kerajaan Soppeng, Wajo, Tanete, dan Sawitto merupakan kerajaan suku Bugis.
3.      Kerajaan Balanipa, Binnang, Campala Giang, Bampuang, Cenrana, Tapalang dan Mamuju adalah kerajaan suku Mandar.
Raja suku Makasar disebut   :   Karaeng
Raja suku Bugis disebut        :   Aru atau Arung
Raja suku Mandar disebut     :   Maladdia

            Akhirnya VOC berusaha untuk menguasai wilayah timur ini dengan sewenang-wenang. VOC berani melarang dengan keras orang-orang Makasar melakukan transaksi dagang di kepulauan Maluku. Raja Gowa waktu itu  Sultan Alaudin dengan tegas menentang dan menjawab “Tuhan menciptakan bumi dan lautan untuk dimiliki bersama. Tak pernah ada terdengar orang dilarang berdagang dan berlayar . Yang melarang hal itu berarti merenggut nafkah orang”.
            Kepentinga kerajaan Gowa dan kepentingan VOC saling bertentangan,  maka pada perkembangan selanjutnya tidaklah mengherankan jika terjadi benturan dan peperangan. Hal ini berlanjut pada masa Sultan Muhamad Said, putra Sultan Alaudin yang wafat pada tanggal 15 Juni 1639.VOC dilarang membuka kantor perdagangan di Sobbaopu. Orang-orang makasar tidak peduli terhadap larangan-larang dan peraturan yang dibuat VOC.
            Pada tanggal 6 Nopember 1653, Sultan Muhamad Said wafat diganti putranya yang bernama Sultan Hasanuddin. Sultan Hasanuddin adalah adalah seorang ksatria gemblengan kerajaan Gowa, pernah menjabat sebagai Karaeng Tumakhajannangngang ( pasukan elite/ istimewa ).  
            Sultan Hasanuddin tetap menjalankan dan melanjutkan kebijaksanaan yang diambil oleh almarhum kakek dan ayahnya. Kerajaan Gowa tetap tidak mau mengakui hak monopoli perdagangan VOC di Maluku maupun di Sobaopu. Pada bulan April 1655 armada Gowa di bawah pimpinan Sultan Hasanuddin mampu merebut Buton dari pendudukan VOC. Pada tanggal 23 Oktober 1655, kapal VOC yang dipimpin Casper Buytendijk dan 24 anak buahnya berhasil dihancurkan. Konflik antara VOC dan kerajaan Gowa terus berlanjut, hampir tak terputus sejak tahun 1615.
            Pada bulan Desember 1666, armada VOC dengan kekuatan 21 kapal yang dilengkapi meriam, mengangkut 600 tentara yang dipimpin Cornelis Speelman tiba dan menyerang Makasar dari laut. Arung Palaka dan orang-orang suku Bugis rival suku Makasar membantu VOC menyerang melalui daratan. Akhirnya VOC dengan sekutu-sekutu Bugisnya keluar sebagai pemenang, Sultan Hasanuddin dipaksa menanda tangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 Nopember 1667, yang berisi   :
  1. Sultan Hasanuddin memberi kebebasan kepada VOC melaksanakan perdagangan .
  2. VOC memegang monopoli perdagangan di Sombaopu .
  3. Benteng Makasar di Ujung Pandang diserahkan pada VOC.
  4. Bone dan kerajaan-kerajaan Bugis lainnya terbebas dari kekuasaan Gowa.
Sultan Hasanuddin tetap gigih, masih mengobarkan pertempuran-pertempuran. Serangan besar-besaran terjadi pada bulan April 1668 sampai Juni 1669. Akhirnya Sultan tak berdaya namun semangat juangnya menentang VOC masih dilanjutkan oleh orang-orang Makasar.

DAFTAR PUSTAKA


Badrika, Wayan . 2000. Sejarah Nasional Indonesia dan Umum 2, Jakarta: Penerbit Erlangga

Depdiknas. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi IPS Sejarah. Jakarta: Direktorat PLP.

Edi S. Ekajati, Drs., 1985. Fatahillah Pahlawan Arif Bijaksana. Jakarta: PT Mutiara Sumber
             Widya.

Hamlan Arpan, H., 1992.  Pangeran Antasari.  Jakarta:  PT Mutiara Sumber Widya.

Kutoyo, Sutrisno, dkk. 1986. Sejarah Ekspedisi Pasukan Sultan Agung ke Batavia. Jakarta:
           Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Marwati Djoenet P. & Nugroho Noto Susanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI.                       Jakarta: Balai Pustaka

MD, Sagimun, 1985. Sultan Hasanudin Menentang V.O.C.  Jakarta : Departemen Pendidikan
           dan Lebudayaan.

Ricklefs, M.C., 2005. A History of Modern Indonesia Since c. 1200.  alih bahasa  Satrio
Wahono dkk. Sejarah Indonesia Modern  1200 – 2004, Jakarta : PT Serambi Ilmu
Semesta.

Satia, Meta Candra. 1985. Sultan Baab Ullah Pengusir Portugis dari Maluku, Jakarta :  C.V.
Muara Cipta.


 

 

 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar