Total Tayangan Halaman

Kamis, 21 Maret 2013

Perang Diponegoro ( 1825 – 1830 )


             Kerajaan Mataram pada abad ke –18 mengalami kemerosotan. Belanda berhasil memecah belah wilayah kerajaan Mataram menjadi Surakarta, Ngayogyakarta, Mangkunegara dan Pakualaman. Sebagian besar daerah-daerah kekuasaan Mataram diambil alih menjadi Belanda dengan dalih sebagai imbalan atas bantuan pada pihak tertentu dari empat kerajaan kecil tersebut.
            Tindakan sewenang-wenang yang dilakukan Belanda ini menimbulkan kebencian dari kalangan rakyat banyak. Kebencian terakumulasi melahirkan perlawanan rakyat menentang pendudukan Belanda. Tindakan Belanda yang memancing perlawanan adalah   :
  1. Kekuasaan raja Mataram semakin lemah, wilayahnya dipecah-pecah.
  2. Kewibawaan kerajaan merosot akibat Belanda ikut campur tangan dalam urusan pemerintahan dan pengangkatan raja pengganti.
  3. Kaum bangsawan sangat dirugikan karena sebagian besar sumber penghasilannya diambil alih oleh Belanda. Mereka dilarang menyewakan tanah bahkan diambil alih haknya.
  4. Adat istiadat keraton menjadi rusak dan kehidupan beragama menjadi merosot.
  5. Penderitaan rakyat yang berkepanjangan sebagai akibat dari berbagai macam pajak seperti pajak hasil bumi, pajak jembatan, pajak jalan, pajak pasar, pajak ternak, pajak dagangan, pajak kepala dan pajak tanah.

Tindakan perlawanan yang membuat kewalahan pihak Belanda datang dari Tegalrejo yang dengan cepat meluas ke seantero Jawa. Perlawanan ini dipimpin oleh Pangeran Diponegoro didukung oleh Kyai Mojo, Pangeran Mangkubumi, Sentot Ali Basyah Prawirodirjo dan Pangeran Dipokusumo.
            Hal yang menjadi sebab utama Pangeran Diponegoro mengobarkan perlawanan terhadap Belanda adalah adanya rencana pembuatan jalan yang melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo. Patih Danurejo IV yang merupakan kaki tangan Belanda berulangkali memasang patok –patok yang telah di cabut di jalur itu. Akhirnya patok-patok itu oleh Pangeran Diponegoro diganti dengan tombak sebagai tanda penyelesaian dengan perang. Belanda memakai Pangeran Mangkubumi ( paman Pangeran Diponegoro ) untuk membujuk agar mau berunding dengan residen Belanda di Loji. Pangeran Diponegoro tetap bersikeras siap perang dan Pangeran Mangkubumi akhirnya memberi dukungan.
Pangeran Diponegoro ( 1785 – 1855 ) adalah putra sulung Sultan Hamengku Buwono III. Sewaktu kecil bernama R. M. Ontowiryo, hidup bersama neneknya yang bernama Ratu Ageng di Tegalrejo. Ilmu agama Islam begitu mendalam dipelajari, sehingga membentuk karakter yang tegas, keras dan jihad.

            Pada tanggal 20 Juli 1825,  Belanda  bersama Patih Danurejo IV mengadakan serangan ke Tegalrejo. Pangeran Diponegoro bersama pengikutnya menyingkir ke Selarong, sebuah perbukitan di selatan Yogyakarta. Selarong dijadikan markas untuk menyusun kekuatan dan strategi penyerangan secara gerilya. Agar tidak mudah diketahui oleh pihak Belanda, tempat markas  berpindah-pindah, dari Selarong ke Plered kemudian ke Dekso dan ke Pengasih.
            Perang Diponegoro meluas dari Yogyakarta ke daerah lain, seperti Pacitan, Purwodadi, Banyumas, Pekalongan, Madiun, Rembang , Semarang dan Kertosono. Maka Perang Diponegoro sering dikenal juga sebagai Perang Jawa. Pasukan Pangeran Diponegoro mendapat banyak kemenangan pada pertempuran-pertempuran sekitar tahun 1825 – 1826. Peristiwa heroik yang cukup gemilang adalah pertempuran di Lengkong. Pasukan Pangeran Diponegoro berhasil memporak-porandakan pasukan Belanda yang lebih besar. Dengan siasat gerilya, pasukan Pangeran Diponegoro berhasil menghantam pasukan Belanda di beberapa tempat.
            Berbagai upaya untuk mematahkan perlawanan Pangeran Diponegoro telah dilakukan Belanda, namun masih gagal. Siasat Bentel Stelsel ( sistim Benteng ) yang banyak menguras biaya diterapkan juga. Namun sistim benteng ini juga kurang efektif untuk mematahkan perlawanan Diponegoro.
Benteng Stelsel ( sitim Benteng ) adalah siasat yang dilakukan dengan cara membangun sejumlah benteng di daerah-daerah yang telah dikuasai Belanda. Antara benteng yang satu dengan yang lainnya dihubungkan dengan jalan, tujuannya untuk mempermudah mobilisasi pasukan Belnada ke daerah yang membutuhkan bantuan.
Tujuan Benteng Stelsel adalah   :
1.      Agar pasukan Pangeran Diponegoro terpecah belah.
2.      Agar pasukan Pangeran Diponegoro ruang geraknya terbatas.
3.      Agar pasukan pangeran Diponegoro kesulitan mendapat suplai logistik maupun senjata dan pasukan. 

Upaya lain yang dilakukan Belanda adalah dengan melakukan bujukan-bujukan yang menjanjikan kepada pendukung Pangeran Diponegoro. Kyai Mojo berhasil diperdaya dalam perundingan yang berlangsung di Mlangi . Ia ditangkap dan kemudian diasingkan ke Minahasa sampai wafat  pada tahun 1849.
           
Sentot Ali Basyah Prawirodirjo bersedia berunding dengan syarat yang disetujui Belanda
Yaitu   :
  1. Tetap beragama Islam
  2. Berpakaian sorban
  3. Memimpin pasukan 1000 orang
  4. Di beri senjata sebanyak 5000 buah senapan
Pada anggal 20 Oktober 1829, Sentot bahkan dianugerahi pangkat Letnan Kolonel yang langsung di bawah pimpinan Jendral De Kock. Sentot dengan pasukannya sempat di kirim ke Sumatera Barat untuk membantu memadamkan Perang Paderi. Kekhawatiran Belanda terhadap Sentot setelah bertemu dengan Tuanku Imam yang seakidah ternyata menjadi kenyataan. Sentot justru mendukung perjuangan Tuanku Imam di Bonjol.
            Jenderal De Kock akhirnya menggunakan siasat tipu muslihat melalui perundingan yang menghormati menjamin keselamatan. Pada tanggal 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro bersedia hadir untuk berunding di rumah Residen Kedu di Magelang. Perundingan tanpa membuahkan hasil atau kesepakatan, kekebalan keselamatan Pangeran Diponegoro ternyata diingkari. Pangeran Diponegoro di tangkap dan ditawan di Semarang dan dipindah ke Batavia. Selanjutnya pada tanggal 3 Mei 1830 dipindah lagi ke Manado. Pada tahun 1834 pengasingannya dipindah lagi ke Makasar sampai meninggal dunia pada usia 70 tahun  tepatnya tanggal 8 Januari 1855.
Perang Diponegoro ternyata membuat Belanda banyak mengalami kerugian baik harta maupun nyawa. Biaya yang dikeluarkan untuk menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro sekitar 20 juta Golden nilai uang waktu itu.  Korban nyawa pihak Belanda mencapai 8000 pasukan Belanda dan 7000 pasukan Belanda dari golongan pribumi. Kerusakan-kerusakan lain seperti fasilitas gedung, jalan, jembatan dan  sarana lain sangat besar nilai kerugiannya.    

DAFTAR PUSTAKA
Badrika, Wayan . 2000. Sejarah Nasional Indonesia dan Umum 2, Jakarta: Penerbit Erlangga

Depdiknas. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi IPS Sejarah. Jakarta: Direktorat PLP.



Marwati Djoenet P. & Nugroho Noto Susanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI.        Jakarta: Balai Pustaka


Ricklefs, M.C., 2005. A History of Modern Indonesia Since c. 1200.  alih bahasa  Satrio
Wahono dkk. Sejarah Indonesia Modern  1200 – 2004, Jakarta : PT Serambi Ilmu
Semesta.


 

 

 

3 komentar:

  1. Ada yang dikaburkan dari sejarah, ini tak lepas dari berkuasanya orde baru. Pertanyaan besar, mengapa Peran dari Pangeran Mangkubumi tidak tercatat?, padahal jaman Presiden Soekarno Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai Pahlawan Nasional???..
    Ada apa dibalik ini??
    Mungkin perlu dijadikan acuan utama adalah buku sejarah Nasional Indonesia karangan saya lupa timnya, tapi salah satunya adalah Prof Nugroho Notosusanto, disitu tercatat jelas runtutan Perang Diponegoro dan tokoh2 yang ikut berjuang. Adalah aneh Seorang Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai Pahlawan Nasional, tapi tidak tercatat dalam sejarah saat ini.
    thx

    BalasHapus
  2. Mari kita tegakkan sejarah dengan sebenar benarnya, bukan krn kebencian membuat seorang Pahlawan Nasional dihilangkan dalam sejarah saat ini.Gelar Pahlawan Nasional bukan gelar Main main, tapi sudah mendapat kajian secara mendalam. Sungguh aneh negeri ini ,yang berkuasa bisa menghapus jejak sejarah dan memanupulasi.
    Catatan akhir, Pangeran Mangkubumi adalah tokoh hebat dibalik Perlawanan Diponegoro, tertangkapnya Pangeran Mangkubumi membuat Diponegoro kehilangan satu Tangannnya

    BalasHapus
  3. Tambahan sedikit, dulu diseputaran Meyestic Jakarta ada Jalan Pangeran Mangkubumi, dengan arogan penguasa Orde baru merubah menjadi jalan Bumi.

    BalasHapus