Total Tayangan Laman

Jumat, 22 Maret 2013

KESADARAN NASIONAL MENUJU NASIONALISME INDONESIA


Munculnya kesadaran nasional bagaikan terbit sang surya menerangi era kegelapan Nusantara yang dirundung penderitaan, penindasan, ketidak adilan dan pemerkosaan terhadap hak asasi rakyat. Ternyata kadar nasionalitas , cinta tanah air melaju  tak terbendung mendambakan rasa persatuan, kesatuan bebas dari penjajahan 

A.   Nasionalisme dan Kesadaran nasional
            Nasionalisme jika dilihat dari aspek bahasa  memiliki akar kata Natie ( Belanda ) atau nation (Inggris) yang berarti bangsa. Sebelum lahirnya pergerakan nasional mestinya terlebih dahulu ada benih-benih kesadaran nasional. Kesadaran nasional sebenarnya suatu pandangan yang sangat terkait dengan perasaan, soal kehendak ( tekad ) semata-mata untuk hidup bersama (ledesir de vivre ensenble) yang timbul diantara golongan besar manusia yang nasibnya sama pada masa lampau terutama dalam penderitaan-penderitaan bersama.
            Rasa kebangsaan tersebut menunjuk pada semangat kadar nasionalitas, cinta tanah air.
.Alasan utama mengapa bangsa Indonesia memberikan reaksi perlawanan dan menggalang semangat nasionalis adalah penindasan, ketidakadilan, dan pemerkosaan terhadap hak asasi rakyat secara keji serta sikap diskriminatif yang menjijikan dari pemerintah Belanda terhadap rakyat Indonesia. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia merekam pemilikan rasa kesadaran kebangsaan itu. Kesadaran nasional menemukan kembali harga diri bangsa secara nyata telah muncul sebagai bentuk nasionalisme. Kebutuhan pendidikan telah disadari sebagai kebutuhan yang tidak bisa ditunda dan diabaikan lagi. Kesadaran ini semakin hari semakin meluas di Indonesia.
            Keinginan mengejar untuk mencapai kemajuan melalui pendidikan ditengarai  semakin banyaknya anak-anak sekolah untuk menuntut ilmu. Mereka sadar bahwa penguasaan ilmu pengetahuan untuk bebas dari kebodohan merupakan bekal awal untuk mampu menghadapi bangsa Barat.

B.   Latar Belakang Tumbuhnya Kesadaran Nasional
            a.   Faktor Intern
1.       Sejarah masa lampau yang gemilang
Indonesia sebagai bangsa telah mengalami  Jaman Nasional yaitu pada masa kebesaran Majapahit dan Sriwijaya. Ini memberi bukti bahwa sebelum kedatangan bangsa Barat kita sebagai bangsa telah mampu mengatur diri sendiri, memiliki kedaulatan atas wilayah dimana kita tinggal. Kebesaran ini tentu secara psikologis membawa pikiran dan angan-angan  bangsa Indonesia untuk senantiasa dapat menikmati kebesaran itu. Hal ini dapat menggugah perasaan nasionalismen golongan terpelajar pada decade awal abad XX. Tidaklah berlebihan jikakebesaran pada masa lampau itu menjadi jiwa para tokoh pergerakan dalam  upaya melepaskan diri dari penjajah Belanda.

2.      Penderitaan Rakyat Akibat Penjajahan
Penjajahan pada hakekatnya penderitaan, karena potensi bangsa terjajah dikuras untuk kepentingan penjajah. Bangsa Indonesia mengalami masa penjajahan yang panjang dan menyakitkan sejak masa Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, Perancis dan terakhir Jepang. Politik devide et impera, monopoli perdagangan, system tanam paksa dan kerja rodi  merupakan bencana bagi rakyat Indonesia.
Meskipun politik imperialisme kemudian mengalami pergeseran di Indonesia dari eksploitasi manusia ke eksploitasi ekonomi, nasib rakyat belum juga berubah. Kemiskinan, kebodohan, pemerasan, kekejaman, dan wabah penyakit semakin merajalela. Dalam system ekonomi liberal, terbuka bagi pihak pemilik modal asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia ( Politik Pintu Terbuka). Perusahaan-perusahaan besar asing bergairah menanamkan modalnya di bidang  perkebunan dan pertambangan. Tanah-tanah para petani banyak yang disewa paksa dengan harga yang rendah membuat para petani semakin menderita.
. Berita kekejaman pemerintahan kolonial Belanda, para penguasaha dari perusahaan-perusahaan swasta asing ahirnya sampai ke negeri Belanda dan menuai kritik.Tokoh-tokoh yang melontarkan kritik dan kecaman adalah   :
  1. Edward Douwes Dekker dalam bukunya Max Havelaar.
  2. Pendeta Baron van Hoevell.
  3. Mr. Courad  Theodore  van Deventer .

Penderitaan yang terjadi di berbagai sektor kehidupan ini menjadikan rakyat Indonesia muncul kesadaran nasionalnya dan mulai memahami perlunya menggalang persatuan. Atas prakarsa para intelektual, maka angan-angan ini dapat menjadi kenyataan dalam bentuk perjuangan yang bersifat modern.

 3.  Pengaruh Perkembangan Pendidikan Barat di Indonesia
Perkembangan sistem pendidikan pada masa Hindia Belanda tidak dapat dipisahkan dengan politik etis. Ini berarti bahwa terjadinya perubahan di negeri jajahan di Indonesia banyak dipengaruhi oleh keadaan yang terjadi di negeri Belanda. Tekanan datang dari Partai Sosial Demokrat yang di dalamnya ada van Deventer , seorang liberal yang ahli hukum dan pernah tinggal di Indonesia selama tahun 1880 –1897.
Pada tahun 1899, Mr. Courad  Theodore  van Deventer melancarkan kritikan-kritikan yang tajam terhadap pemerintah penjajahan Belanda ditulis dan dimuat dalam jurnal Belanda,  de Gids dengan judul Een eereschuld  yang berarti hutang budi atau hutang kehormatan. Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa kekosongan kas negeri Belanda sebagai akibat perang Diponegoro dan perang kemerdekaan Belgia telah dapat diisi kembali berkat pengorbanan orang-orang Indonesia. Kemamkmuran dan kemajuan negeri Belanda diperoleh dari kerja dan jasa orang koloni Indonesia. Oleh karena itu, Belanda telah berhutang budi kepada rakyat Indonesia. Untuk itu harus dibayar dengan peningkatan kesejahteraan melalui gagasannya yang dikenal dengan Tri Logi van Deventer.
Tri Logi van Deventer meliputi tiga sektor, yaitu   :
1.      Emigrasi, perpindahan penduduk
2.      Irigasi, pengairan
3.      Edukasi, pendidikan
Politik yang diperjuangkan dalam rangka mengadakan desentralisasi, kesejahteraan rakyat serta efisiensi, dikenal dengan nama politik etis.
            Sampai saat meninggalnya pada tahun 1915, van Deventer adalah salah satu kampium politik yang terkemuka, sebagai penasehat pemerintah dan anggota parlemen. Pada tahun 1901, Ratu Wilhelmina (1890 – 1948 ), mengumumkan suatu penyelidikan tentang kesejahteraan di Jawa, dengan demikian politik etis secara resmi disahkan. Pada tahun 1902, Alexsander W.F. Idenburg menjadi Urusan Daerah Jajahan (1902-1919 ). Dengan memegang jabatan ini dan memegang jabatan Gubernur Jenderal ( 1909 1916 ), Idenburg mempraktikan politik etis dengan prinsip Trilogi van Deventer.
Untuk mendukung pelaksanaan politik etis, pemerintah Belanda mencanangkan Politik Assosiasi dengan semboyan unifikasi. Politik asosiasi berkaitan dengan sikap damai dan menciptakan hubungan harmonis antara Barat ( Belanda ) dan Timur ( rakyat pribumi ). Dalam bidang kesehatan, pemerintah telah melaksanakan program pemberantasan penyakit menular seperti pes, cacar, kolera dan malaria sehingga dapat menurunkan angka kematian. Dalam rangka mengatasi kepadatan penduduk, pemerintah melaksanakan emigrasi, perpindahan penduduk dari Jawa ke luar Jawa terutama ke Sumatera. Program ini tidak banyak menolong keadaan rakyat, karena di sna menjadi buruh yang hidupnya menderita. Program Irigasi atau pengairan yang sangat dibutuhkan oleh petani ternyata hanya menguntungkan pihak pemilik perkebunan.
            Dalam bidang pendidikan, tujuan semula Belanda adalah untuk mendapatkan tenaga kerja  atau pegawai murahan dan mandor-mandor atau pelayan-pelayan yang dapat membaca dengan gaji yang murah. Untuk kepentingan tersebut Belanda mendirikan sekolah-sekolah untuk rakyat pribumi. Dengan demikian, jelaslah bahwa pelaksnaan politik etis tidak terlepas dari kepentingan pemerintah Belanda. Karena itu politik etis sering disebut sebagai politik sarung tangan sutra, sebagai pengganti politik sarung tangan besi.
            Sebenarnya sistim pendidikan sudah ada  sejak zaman VOC. Pada tahun 1617 di Jakarta telah didirikan  sekolah Betawi ( Batavische School ). Pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Van Imhoff  di Jakarta   juga didirikan Seminarium Theologicum. Pada tahun 1743 juga berdiri Akademi Pelayaran ( Academie der Marine ). Pada tahun 1737 berdiri sekolah khusus untuk orang-orang Tionghoa.
           Pada tahun 1845 Gubernur Jenderal J. C Baud juga pernah mengusulkan untuk mendirikan lembaga pendidikan bagi kalangan elite penduduk pribumi. Pada tahun 1852 Pemerintah Belanda mendirikan sekolah-sekolah pertama untuk guru pribumi ( kweekscholen) dan satu sekolah untuk melatih “juru suntik” ( dokter Djawa-Schholen). Pada tahun 1878 di Jawa telah didirikan sekolah pimpinan pemerintahan ( Hoofden – scholen). Pada mulanya sekolah ini diperuntukan bagi anak-anak kaum bangsawan (elite ), kemudian menjadi lembaga pendidikan para pegawai pemerintah pribumi atau amtenar ( dikenal juga sekolah pangreh praja). Munculnya sistim pendidikan kolonial ketika itu tidaklah berbanding lurus dengan kepentingan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Orientasi output pendidikan dirancang untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga bagi Hindia Belanda. Setelah dilaksnakannya politik etis sebagai kebijakan pemerintah Hindia Belanda, banyak lembaga pendidikan mulai berdiri. Namun demikian ada beberapa hambatan masuk sekolah, antara lain   :
  1. Adanya perbedaan warna kulit ( color line division )
  2. Sistem pendidikan dikembangkan disesuaikan dengan status social masyarakat ( Eropa, Timur Asing atau Bumi Putra).
  3. Bagi Keompok bumi putra masih dibedaakan oleh status keturunan ( bangsawan, priyayi, rakyat jelata).
Pendidikan kolonial pada awal abad ke-20 tumbuh cukup banyak terdiri atas   :
1.   Pendidikan Dasar
1.      ELS ( Europese Legerschool ) dan HIS ( Holandsch Inlandschool ), untuk keturunan Indonesia Asli golongan atas.
2.      Sekolah Kelas dua, untuk golongan Indonesia asli kelas bawah.
2.   Pendidikan Tingkat Menengah
1.      HBS ( Hogere Burger School ) , MULO ( Meer Uitegbreit Ondewijs ) dan AMS  ( Algemene Middelbarea Aschool )
2.      Sekolah Kejuruan, seperti Kweek Scholen ( guru pribumi) dan Normaal School.
3.   Pendidikan Tinggi
1.      Pendidikan Tinggi Teknik ( Koninklijk Instituut voor Hoger Technisch Ondewijs Nederlandsch Indie)
2.      Sekolah Tinggi Hukum ( Rechschool )
3.      Sekolah Tinggi Kedokteran, berkembang sejak dari nama Sekolah Dokter Jawa, STOVIA, NIAS dan GHS ( Geeneeskundige Hoogeschool ).
4.      Sekolah pelatihan untuk kepala atau pejabat pribumi, Hoofdenscholen, OSVIA
 ( Opleidingsscholen voor Inlansche Ambtenaren )
Pendidikan Kesehatan atau kedokteran , sejak 2 Januari 1849 lahir sebagai Sekolah Dokter Jawa, kemudian pada tahun 1875 diubah menjadi Ahli Kesehatan Bumi Putra (Inlandsch Geneeskundige). Pada tahun 1902 menjadi dokter Bumiputra ( Inlandsch Arts). Sekolah ini diberi nama STOVIA ( School tot Opleiding van Indische Artsen) yang kemudian pada tahun 1913 diubah menjadi NIAS ( Nedelandsch Indische Artsenschool ) akhirnya menjadi  Sekolah Tinggi Kedokteran, GHS ( Geeneeskundige Hoogeschool ).

Suatu kenyataan bahwa para pelopor pergerakan nasional adalah para pelajar STOVIA. Kelompok intelektual khususnya lulusan dokter Jawa ini adalah yang paling menyadari atau yang paling peka terhadap keadaan saat itu. Keadaan yang merupakan penderitaan rakyat itu mereka rasakan secara mendalam mengingat tugas yang diemban berupa pengabdian terhadap kondisi masyarakat Indonesia yang sangat memperihatinkan. Di mana-mana terlihat lingkungan yang jorok sehingga menimbulkan penyakit menular khususnya penyakit kulit, kolera, disentri dan endemic lainnya. Di samping kepekaan yang terkait dengan tugas social dan kemanusiaan, para dokter memiliki kemampuan berkomunikasi, intelektual mereka juga menjadi modal berharga yang membuka cakrawala berfikir.  Pada gilirannya pada diri mereka timbul gagasan-gagasan segar mengembangkan taktik perjuangan dari gerakan yang bersifat fisik ke dalam bentuk organisasi modern.

4.   Pengaruh Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia
Perkembangan pendidikan di Indonesia juga banyak diwarnai oleh pendidikan yang dikelola umat Islam. Ada tiga macam jenis pendidikan dan pengajaran Islam di Indonesia dengan tanpa melihat formal tidaknya, adalah   :
  1. Pendidikan di Langgar atau Surau
  2. Pendidikan Pesantren
  3. Pendidikan Madrasah
Walaupun dasar pendidikan dan pengajarannya berlandaskan ilmu pengetahuan agama Islam, mata pelajaran umum lainnya juga mulai disentuh. Para kyai dan santri dengan berpedoman pendalaman Al Qur’an dan Al Hadist mampu eksis untuk membaca tantangan jaman. Bahkan pada diri mereka muncul suatu kesadaran tidak sekedar sadar akan harga diri, cinta tanah air, tapi terpatri semangat jihad fisabilillah, tugas suci perang di jalan Allah. Kekuatan moral hasil gemblengan dipondok pesantren, surau, langgar dan madrasah tidak pernah pudar. Usaha memecah belah pemerintah kolonial Belanda dan kristenisasi tidak mampu meruntuhkan moral dan iman para santri. Tokoh-tokoh pergerakan nasional dan pejuang muslimpun bermunculan dari lingkungan ini. Banyak dari mereka menjadi penggerak dan tulang punggung perjuangan kemerdekaan.
 Rakyat Indonesia yang mayoritas adalah  kaum muslim ternyata merupakan salah satu unsur penting untuk menumbuhkan semangat nasionalisme Indonesia. Para pemimpin nasional yang bercorak Islam akan sangat mudah untuk memobilisasi kekuatan Islam dalam membangun kekuatan bangsa.

            5.   Dominasi Ekonomi Kaum China di Indonesia
Kaum pedagang keturunan nonpribumi, khususnya kaum pedagang China semakin membuat kesal para pedagang pribumi. Puncak kekesalan kaum pedagang pribumi ketika keturunan China mendirikan perguruan sendiri yakni Tionghoa Hwee Kwan pada tahun 1901. Peristiwa itu membangkitkan persatuan yang kokoh  diantara sesama pedagang pribumi  untuk menghadapi secara bersama pengaruh dari pedagang China. Dengan adanya peluang dari pemerintah Belanda menguasai bisnis eceran, pertokoan dan menjadi kolektor pajak dari pemerintah Belanda akibatnya sikap kaum keturunan China menjadi elbih agresif. 

            6.   Peranan Bahasa Melayu
Di samping mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, Indonesia juga memiliki bahasa pergaulan umum  ( Lingua Franca ) yakni bahasa Melayu. Dalam perkembangannya, bahasa Melayu berubah menjadi bahasa persatuan nasional Indonesia. Dengan posisi sebagai bahasa pergaulan, bahasa Melayu menjadi sarana penting untuk mensosialisasikan gagasan dan semangat kebangsaan dan nasionalisme ke seluruh pelosok Indonesia.

7.   Istilah Indonesia sebagai Identitas Nasional
Istilah ‘ Indonesia ‘ berasal dari kata India ( bahasa Latin untuk Hindia ) dan kata nesos (bahasa Yunani untuk kepulauan), sehingga kata Indonesia berarti kepulauan Hindia. Istilah Indonesia, Indonesisch dan Indonesier makin tersebar luas pemakaiannya setelah banyak dipakai oleh kalangan ilmuwan seperti G.R. Logan, Adolf Bastian, van Vollen Hoven, Snouck Hougronje  dan lain-lain.
Pada tahun 1925 mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda mengubah nama organisasi mereka menjadi Perhimpunan Indonesia. Nama baru ini merupakan terjemahan dari namanya dalam bahasa Belanda “ de Indonesische vereniging “ yang telah digunakan sejak tahun 1922. Seakan-akan dengan tiba-tiba saja perkumpulan para mahasiswa yang berada di rantau orang ini, atau di negeri sang penguasa ( het land van de overheersers) telah menampilkan diri sebagai kekuatan nasionalisme Indonesia. Kenyataan ini semakin jelas karena ketika itu pula organisasi mahasiswa mengeluarkan sebuah “Manifesto Politik” yang berisikan hasrat untuk memperjuangkan tercapainya kemerdekaan Indonesia.

     b.   Faktor Ekstern
Timbulnya pergerakan nasional Indonesia di samping disebabkan oleh kondisi dalam negeri, juga ada factor yang berasal dari luar ( ekstern). Faktor-faktor ekstern yang memberi dorongan dan energi terhadap lahirnya pergerakan nasional di Indonesia adalah :

1.      Kemenangan Jepang atas Rusia.
Selama ini sudah menjadi suatu femeo jika keperkasaan Eropa ( bangsa kulit putih ) menjadi symbol superioritas atas bangsa-bangsa lain dari kelompok kulit berwarna. Hal itu ternyata bukan suatu kenyataan sejarah, perjalanan sejarah dunia menunjukkan bahwa ketika pada tahun 1904-1905 terjadi peperangan antara Jepang melawan Rusia, ternyata yang keluar sebagai pemenang dalam peperangan itu adalah Jepang. Hal ini memberi kan semangat juang terhadap para pelopor pergerakan nasional di Indonesia.
 Faktor-faktor yang menyebabkan Jepang menang   :

a.   Melakukan Meiji Restorasi,
melakukan perubahan strategi  politik luar negerinya dari kebijakan pintu tertutup menjadi pintu terbuka. Dengan demikian, Jepang mulai terbuka terhadap dunia luar, bahkan sistim pemerintahannya meniru gaya Inggris, sedangkan modernisasi angkatan perangnya meniru Jerman.
b.   Memiliki semangat Bushido ( jalan ksatria )
Semangat ini di samping menunjukkan kesetiaan kepada Kaisar dan nasionalisme, sekaligus menunjukkan suatu etos kerja yang tinggi, penuh dengan disiplin dan kerja keras. 


2.      Partai Kongres India.
Perlawanan terhadap Inggris yang ada di India, atas inisiatif seorang Inggris Allan Octavian Hume pada tahun 1885 mendirikan Partai Kongres India. Di bawah kepemimpinan Mahatma Gandhi, partai ini kemudian menetapkan garis perjuangan ; Swadesi, Ahimsa, Satyagraha dan Ahimsa. Keempat ajaran Ghandi ini mengandung makna yang memberi banyak inspirasi terhadap perjuangan di Indonesia.
Ajaran Gandhiisme   :
1.      Satyagraha (nonkooperasi), tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial Inggris.
2.      Ahimsa ( larangan membunuh), dalam melawan penjajah Inggris menghindari peperangan dan kekerasan, untuk mengalahkan Inggris  dengan akal dan kebijaksanaan.
3.      Hartal (berdiam diri), protes terhadap pemerintah dengan cara berdiam diri atau mogok tidak bekerja.
4.       Swadesi, berusaha mencukupi kebutuhan dengan usaha sendiri, agar barang produksi Inggris macet dipasaran India.

3.      Philipina di bawah Jose Rizal
Philipina merupakan jajahan Spanyol yang berlangsung sejak 1571 – 1898. Dalam perjalanan sejarah Philipina muncul sosok tokoh yang bernama Jose Rizal merintis pergerakan nasional dengan mendirikan Liga Philipina. . Pada tahun 1892 Jose Rizal melakukan perlawanan bawah tanah terhadap penindasan Spanyol. Tujuan yang ingin dicapai adalah bagaimana membangkitkan nasionalisme Philipina dalam menghadapi penjajahan Spanyol. Dalam perjuangannya Jose Rizal dihukum mati pada tanggal 30 Desember 1896, setelah gagal dalam pemberontakan Katipunan. Sikap patriotisme dan nasionalisme yang ditunjukkan Jose Rizal membangkitkan semangat rela berkorban dan cinta tanah air bagi para cendekiawan di Indonesia.

Novel perjuangan yang terkenal karya Jose Rizal berjudul Noli Me Tangere, yang berarti ‘jangan singgung saya’. Novel ini membuat pemerintah Spanyol yang tersinggung dan marah, untuk itu Jose Rizal menjadi buron pemerintah Spanyol di Philipina.

       4.   Gerakan Nasionalisme Cina
Dinasti Mandsyu ( Dinasti Ching ) memerintah di Cina sejak tahun 1644 sampai 1912.  Dinasti ini dianggap dinasti asing oleh bangsa Cina karena dinasti ini bukan keturunan bangsa Cina. Masuknya pengaruh Barat menyebabkan munculnya gerakan rakyat yang menuduh bahwa Dinasti Mandsyu sudah lemah dan bekerja sama dengan imperialisme Barat.  Oleh karena itu muncul gerakan rakyat Cina untuk menentang penguasa asing yaitu para imperialisme Barat dan Dinansti Mandsyu yang juga dianggap penguasa asing. Munculnya gerakan nasionalisme Cina diawali dengan terjadinya pemberontakan Tai Ping  ( 1850 – 1864 ).  Gerakan ini ternyata berimbas semangatnya di tanah air Indonesia.
 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar