Total Tayangan Laman

Kamis, 21 Maret 2013

Perang Paderi ( 1803 – 1838 )


           Peristiwa ini berawal dari gerakan Paderi untuk memurnikan ajaran Islam di wilayah Minangkabau, Sumatera  Barat. Gerakan Paderi ini diilhami faham Wahabi yang merebak berkembang kuat dan subur di jasirah Arab khususnya Mekkah. Aliran Wahabi ini di bawa oleh tiga serangkai putra Minang yang naik haji pada tahun 1803, yaitu  :
  1. Haji Miskin berasal dari Pandaisikat ( Agam ).
  2. Haji Sumanik dari VIII Kota.
  3. Haji Piabang dari Tanah Datar.

Pendiri faham Wahabi bernama Mohammad bin Abdul Wahab ( 1703 – 1792 ). Ia berasal dari Nejed, Arabia Tengah. Pokok-pokok ajaran Wahabi adalah  :
1.  Menekankan mutlaknya kepada keesaan Allah SWT.
2.      Kembali kepada kemurnian ajaran Islam, sesuai Al Qur’an dan Sunnah 
Rosul.
3.      Mengutamakan perbuatan baik dan menghindari perbuatan jahat.

            Masyarakat Minangkabau waktu itu mengaku beragama Islam namun melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilarang agama Islam. Kebiasaan –kebiasaan ini dibiarkan hidup oleh kaum adat bahkan dilestarikan, seperti mengadu ayam, berjudi, mengisap madat dan minum tuak. Menurut kaum Paderi  segala kebiasaan yang dibiarkan oleh kaum adat itu harus dilenyapkan. Maka sejak mulai tersebarnya faham baru itu konflik antara kaum agama dan kaum adatpun terbuka. Pertentangan pun mengarah pada kekerasan yang berujung pecahnya perang.
 
Istilah Paderi berasal dari nama tempat pusat kegiatan Islam di pantai timur Sumatra, yaitu Pedir.
Jadi kaum Paderi adalah kaum Pedir atau kaum Putih karena selalu berpakaian serba putih. Kebetulan kaum adat suka berpakaian serba hitam. Namun menurut orang-orang Barat, Paderi berasal dari kata Portugis yaitu padre yang artinya Bapak. Umumnya orang Barat memanggil dengan sebutan Bapak untuk Pendeta mereka atau pemuka agama.

            Perang ini dikenal dengan nama perang Paderi karena perang antara kaum Paderi/ kaum putih / golongan agama melawan kaum hitam / kaum adat dan Belanda. Kaum hitam bukan hanya kaum adat, orang Belanda yang berkulit putih  yang membantu kaum adat mereka hitamkan. Belanda adalah ‘kafir’ yang bermaksud menduduki Minangkabau.Tokoh-tokoh pendukung kaum Paderi selain tiga serangkai adalah Tuanku Nan Renceh, Tuanku Kotatua, Tuanku Mesiangan, Tuanku Pasaman, Tuanku Tambusi dan Tuanku Imam.
            Jalannya Perang Paderi dapat dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu   :

  1. Tahap I, tahun 1803 – 1821
Pada tahap ini bermula dari sejak Haji Miskin membakar balai Pandaisikat yang dimuliakan oleh semua penghulu namun biasa dipakai untuk menyabung ayam dan berjudi. Kemudian di mana saja kaum agama mengadakan pemurnian atau larangan-larangan, kaum adat selalu menentangnya. Karena sama-sama keras maka penyelesaian akhir dengan menggunakan senjata. Pertempuranpun terjadi, mula-mula di daerah Batubatabuh berkembang ke Tilatang, Ujungguguk, Padangtarab, Matur dan sampailah ke luhak Limapuluh Kota.
Ciri perang tahap pertama ini adalah murni perang saudara, kedua belah pihak sama-sama beragama Islam. Bedanya, kaum putih sangat mengutamakan agama, kaum hitam sangat mengutamakan adat. Perang pada tahap ini belum ada campur tangan pihak luar dalam hal ini Belanda.

  1. Tahap II, tahun 1822 – 1832
Kaum agama terus menerus mendesak kaum adat. Di tiap kampung yang sudah ditundukkanoleh kaum putih diangkat 2 orang alim, Tuanku Imam dan Tuanku Kadi. Tugas Tuanku Imam memimpin upacara agama serta memberi penerangan –penerangan tentang agama. Tuanku Kadi tugasnya sebagai hakim , ia menghukum setiap orang yang dianggap bersalah.
Karena terus-menerus terdesak, kaum adat meminta bantuan bangsa asing, yaitu Belanda. Dengan demikian Kaum Paderi tidak hanya menghadapi kaum adat tetapi juga menghadapi Belanda yang membantu kaum adat, artinya Belanda diperalat kaum adat.

  1. Tahap III, tahun 1832 – 1838
Pada pertempuran tahap ini kaum Paderi tidak lagi memandang kaum adat sebagai musuh besar, perang bukan lagi pertentangan kaum adat dengan kaum agama, sifat perang bukan lagi perang saudara. Perang pada tahap ini adalah perang semesta rakyat Minangkabau mengusir Belanda. Melalui kekuatan rakyat yang dipimpin kaum Paderi, perang ini merupakan perang sabil ( jihad fi sabilillah ) melawan Belanda yang ‘ kafir’.

            Pada tahun 1809, Tuanku Imam mengundang rapat para penghulu dan orang-orang terkemuka dari kawasan Alahan Panjang. Mereka sepakat untuk mendirikan sebuah masjid yang dikelilingi benteng. Selain masjid di dalam benteng, didirikan pula rumah-rumah penduduk. Tempat inilah yang diberi nama Bonjol.

Tuanku Imam Bonjol ( 1772 – 1864 ) waktu mudanya bernama Peto Syarif. Gelar yang didapat berturut-turut adalah  Malin Basa ( besar ) lalu  Tuanku Muda, akhirnya Tuanku Imam. Peto Syarif  dilahirkan di Tanjung Bunga pada  tahun 1772. Ayahnya bernama Tuanku Rajamudin. Pada tahun 1807 ia bersama keluarga pindah ke kaki Bukit Terjadi di Alahan Panjang.  

            Rapat itu selain menyepakati mendirikan benteng dan membangun masjid juga mengangkat empat orang pembesar yang akan memerintah di Bonjol, yaitu  :
  1. Tuanku Imam
  2. Tuanku Hitam
  3. Tuanku Nan Gapuk
  4. Tuanku Keluat

Keempat pembesar ini disebut Berempat Sela atau Raja nan Berempat. Tuanku Imam diangkat karena kecerdasan dan pengetahuannya yang dalam tentang ajaran Islam. Tiga pemimpin yang lain karena keberaniannya. Dalam kenyataannya kemudian, Tuanku Imam yang memegang kendali pimpinan. Pada tahun 1814, Bonjol telah berkembang semakin besar, negeri ini menjadi ramai karena didatangi penghuni baru. Sebagai sebuah negeri yang berbenteng, Bonjol dipersenjatai. Senjata berat ukuran waktu itu seperti meriam ditempatkan di Bukit Terjadi yang dianggap strategis untuk mempertahankan diri.
            Dalam perang Paderi, Bonjol adalah salah satu sumber kekuatan terpenting dari pihak kaum agama. Bonjol merupakan pusat dan benteng dari negeri Islam. Tuanku Imam bertindak sebagai pemimpin agama, pemimpin pemerintahan dan panglima. Kepemimpinan Tuanku Imam dalam Perang Paderi membuat ia seorang tokoh yang paling disegani oleh pihak kawan maupun lawan.
            Pada tahun 1837 adalah tahun yang amat menentukan dalam pertempuran Bonjol. Gubernur Jenderal D.J. de Eerens  ( 1836 –1840 ) memerintahkan Mayor Jenderal F.D Cochius berangkat ke Sumatera Barat untuk mencari jalan mengakhiri Perang Paderi. Siasat yang digunakan Belanda untuk merebut Bonjol adalah  :
1.   Perundingan, siasat ini bagi Belanda untuk mengulur waktu memperluat diri dan menunggu
      datangnya bala bantuan.
2.   Merebut negeri-negeri di sekitar Bonjol, maksudnya ialah untuk memutuskan masuknya
      perbekalan ke Bonjol. Kemudian membuat kubu-kubu untuk mengimbangi kubu-kubu kaum
      Paderi di Bonjol terutama di Bukit Terjadi.
3.   Menakhukkan lebih dahulu Bukit Terjadi yang merupakan sarang meriam-meriam kubu
      Paderi, sebagai urat nadi pertahanan Bonjol.
            Akhirnya dengan jatuhnya Bukit Terjadi, Paderi Bonjol sudah tidak berdaya. Pada tanggal 16 Agustus 1837, jam 8 pagi, Bonjol secara keseluruhan diduduki Belanda.  Tuanku Imam mengungsi ke Marapak. Pada tanggal 28 Oktober 1837 Tuanku Imam memenuhi undangan Residen Padang, Francis untuk bertemu di Pelupuh. Pertemuan itu berakhir dengan penangkapan Tuanku Imam, yang langsung di bawa ke Padang. Selanjutnya atas perintah Letkol Michiels, Tuanku Imam diasingkan ke Cianjur, Jawa pada tahun 1838. Kemudian pada tahun 1839 dipindah ke Ambon. Tiga tahun kemudian dipindah ke Manado sampai meninggal pada tanggal 6 Nopember 1964 pada usia 92 tahun.

DAFTAR PUSTAKA
             
Badrika, Wayan . 2000. Sejarah Nasional Indonesia dan Umum 2, Jakarta: Penerbit Erlangga

Depdiknas. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi IPS Sejarah. Jakarta: Direktorat PLP.

Helius Syamsuddin M.A., Drs., 1975. Perang Paderi. Jakarta  : PT Mutiara Sumber Widya.

KS, Tugiyono, Sutrisno Kutoyo, Alex Pelatta. 1984. Atlas dan Lukisan Sejarah Nasional
Indonesia. Jakarta : CV Baru

Mardjani Martamin, Drs. 1985.  Tuanku Imam Bonjol. Jakarta : Departeemen Pendidikan dan
           Kebudayaan.

Marwati Djoenet P. & Nugroho Noto Susanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI.        Jakarta: Balai Pustaka

Ricklefs, M.C., 2005. A History of Modern Indonesia Since c. 1200.  alih bahasa  Satrio
Wahono dkk. Sejarah Indonesia Modern  1200 – 2004, Jakarta : PT Serambi Ilmu
Semesta.


 

 

 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar