Total Tayangan Halaman

Jumat, 12 Februari 2016

SENGKARUT HONORER TOGOG



Hasil gambar untuk animasi togog sekolahOleh : Miladiyah Susanti
Togog tergopoh-gopoh berjalan keluar rumah sambil mengepit erat map biru. Wajahnya kusut. bibirnya cemberut, pantulan isi hati yang sedang sengkarut. Beberapa puluh meter dari pintu rumah, datang Gareng yang juga terlihat sedang gelisah.
“Kebetulan ketemu, aku mau ke rumah Wa Togog!” sapa Gareng.
”Wah, aku sedang terburu-buru mau ke rumah Guru Sangkuni. Kalau sampai telat, pasti aku gagal lagi jadi PNS,” jawab Togog sambil terus berjalan.
“Sebentar saja, Wa! Ini tentang anakku Kompleng yang habis dikeroyok temannya saat sedang pelajaranmu?” sergah Gareng.
“Yang penting si Kompleng ndak apa-apa. Lukanya ndak serius dan sudah diobati. Sekarang ini deadline untukku mengumpulkan berkas-berkas, bukti pengabdianku sebagai guru honorer selama 20 tahun untuk kepentingan ferifikasi. Inilah ujung asaku bisa diangkat menjadi PNS, Reng,” kata Togog memelas.
“Wa Togog kok nyepelekke. Kompleng itu anakku, Wa. Aku mau tahu, bagaimana mungkin saat jam pelajaran kok dia dihajar sama teman-temannya? Apa yang Wa Togog lakukan waktu itu?” Intonasi Gareng meninggi.

Togog terus berjalan. Kaki Gareng terseok-seok mencoba mengimbangi langkah. “Sudah sering si Kompleng diledek oleh anak itu karena tubuhnya yang kurus dan hitam. Sudah sering pula aku menasehati anak-anak untuk tidak suka ledek-ledekan. Aku juga sudah ajarkan Kompleng agar bersabar, tidak membalas dengan perbuatan yang sama. Tapi, kemarin entah kenapa, si Kompleng membalas dengan menantang berantem satu lawan satu. Jadilah anak-anak itu mengeroyoknya. Kebetulan waktu itu aku sedang ke kantor guru,” tutur Togog sambil terus berjalan. Nafasnya tersengal-sengal. Ekor matanya menangkap ekspresi wajah Gareng memerah, mulut melongo, dan tak lagi mengejarnya. Langkahnya pun tertahan. “Heh! Reng, jangan marah! Aku sama sekali tidak menyepelekan kasus si Kompleng. Besok akan kujelaskan semuanya detil. Aku pasti bertanggung jawab. Tapi sekarang, tolong biarkan aku mengurus nasibku dulu. Tolong ngerti aku juga. Hampir 20 tahun mengabdi jadi guru honorer, upahku bahkan tak cukup untuk makan. Kau tega menunjuk hidungku, melempar semua kesalahan dalam kasus si Kompleng ini hanya kepadaku? Di luar sana mungkin anak-anakku juga diledek teman-temannya karena miskin ndak pernah bisa jajan,” tuturnya kian sendu.
Gareng speechless. Geleng-geleng sambil komat-kamit, “Astaghfirulloh. Hasbunalloh wa ni’mal wakil. Hasbunalloh wa ni’mal wakil”. Gusti Pangeran, cukup Engkau yang menolongku dan anakku. Bagaimana aku bisa minta pertanggungjawaban Wa Togog sebagai guru si Kompleng, ketika ia sendiri masih pusing memikirkan kebutuhan pokoknya?” Gareng berbalik arah, kembali terseok-seok menuju rumah sambil terus komat-kamit. “Hasbunalloh wa ni’mal wakil.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar