Total Tayangan Halaman

Jumat, 12 Februari 2016

KONSEP COACHING





1. Definisi Coaching
Hasil gambar untuk gambar guru animasi
   Parsloe dan Wray (2000) menyatakan bahwa coaching adalah suatu proses membantu seseorang agar bisa belajar sehingga terjadi perkembangan dalam dirinya dan diikuti peningkatan kinerjanya. Ditegaskan pula oleh pakar lainnya bahwa coaching adalah seni memberikan bantuan peningkatan kinerja serta seni membantu mengembangkan diri seseorang melalui belajar (Downey, 2001). Sedangkan menurut Luecke (2002), coaching adalah suatu proses interaktif yang dilakukan manajer atau supervisor untuk mengatasi masalah kinerja atau untuk mengembangkan kapabilitas karyawan. Sementara itu, menurut Greene dan Grant (2003), coaching adalah suatu proses sistematis kolaboratif yang berorientasi pada hasil dan berfokus pada solusi di mana seorang coach membantu peningkatan kinerja dan pengalaman hidup ke arah belajar mandiri agar mencapai pengembangan diri. Pendapat lainnya menegaskan bahwa coaching adalah upaya menciptakan perubahan ke arah positif, yaitu tentang bagaimana membantu orang untuk mengembangkan potensi mereka (Senge dalam Greene, 2003). Selanjutnya (O’Connor dan Lages, 2004), menyatakan bahwa coaching adalah membantu seseorang dengan cara yang dikehendakinya dan membantunya menuju arah yang dikehendakinya. Coaching mendukung seseorang pada setiap level untuk menjadi apa yang mereka inginkan dan menjadi yang terbaik sejauh kemampuan mereka.

Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa coaching adalah upaya membuka potensi orang untuk memaksimalkan kinerjanya dengan penekanan pada upaya membantu mereka belajar, bukan sekadar mengajarinya. Pada coaching dibangun hubungan pembelajaran yang membantu orang bertanggung jawab terhadap perkembangannya sendiri, membebaskan potensinya dan mencapai hasil yang amat mereka harapkan.
Secara jelas Zeus dan Skiffington, yang dikutip oleh Connor dan Pokora (2007:12), menyampaikan bahwa coaching:
·          menuntut kemampuan interpersonal yang dikembangkan dengan baik
·          memerlukan kemampuan menghasilkan kepercayaan, komitmen, dukungan, menghasilkan tindakan baru melalui keterampilan menyimak dan berbicara
·          memperpendek kurva pembelajaran
·          bertujuan agar individu berkembang tetapi dapat memberi dukungan jika orang lain mengalami kegagalan atau keluar dari masalahnya
·          memberi dukungan tanpa menghilangkan tanggung jawab
·          memerlukan keterampilan organisasi
·          berfokus pada pembelajaran dan perkembangan untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi
·          menstimulasi pertumbuhan pribadi untuk mengembangkan keahlian baru
·          dapat berfungsi sebagai pedoman karir untuk meninjau tujuan karir dan mengidentiikasi nilai, visi dan kekuatan karir

2. Tujuan Coaching
Pada dasarnya tujuan coaching adalah untuk melatih/membina seseorang atau tim agar mampu:
·          mengandalkan diri sendiri,
·          menjadi pemimpin dari dirinya sendiri,
·          mengoptimalkan performanya sendiri,
·          berkreasi,
·          menyadari apa yang melandasi ucapan dan tindakannya dan bagaimana mengolah pikiran dan perasaannya, dan
·          mampu menghasilkan tindakan dan ucapan yang berdaya.

3. Prinsip-Prinsip Coaching
Menurut Hayes (2003), prinsip-prinsip coaching adalah:
a.       Kerja tim dan kooperatif
b.      Memotivasi anggota tim mencapai keterampilan baru selama bekerja.
c.       Berbagi ilmu pengetahuan, keterampilan dan pengalaman.
d.      Menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik.
e.      Dapat disampaikan dengan cara formal dan non-formal.
f.        Interaksi dua arah.
g.       Berpusat pada bagaimana mengerjakan sesuatu dengan lebih baik.
h.      Bukan tentang “saya” tetapi tentang “Anda”.
Coach Carol Wilson, Managing Director dari Performance Coach Training, menjelaskan 8 (delapan) prinsip dalam coaching yaitu:

a. Awareness (Kesadaran)
Proses coaching menghasilkan kesadaran, di mana dengan itu coachee akan mendapatkan lebih banyak manfaat, karena apapun yang dilakukan coach terpusat pada upaya untuk mendapatkan kesadaran baru dan wawasan, mengidentifikasi tujuan dan mengambil tindakan yang menantang.

b. Responsibility (Tanggung Jawab)
Coach lebih memilih agar coachee sendiri yang memilih menciptakan solusi daripada memberitahu apa yang harus dilakukan, karena belum tentu dapat diterima oleh coachee, karena adanya perbedaan keyakinan dan nilai-nilai. Prinsip inti dari coaching adalah self-responsibility, atau mengambil alih sepenuhnya apa yang sudah menjadi keputusan dirinya.

c. Self Belief (Percaya Diri)
Ada dua komponen untuk membangun kepercayaan coachee. Pertama, memberikan kemungkinan ruang untuk berlatih, belajar, meregangkan diri ataupun membuat kesalahan; kedua, memberi mereka pengakuan atas prestasi mereka melalui otentik, pujian layak yang membangun kepercayaan diri mereka. Percaya diri bahwa coachee mampu melakukan sesuatu merupakan faktor kunci yang sangat penting agar tujuannya tercapai.

d. Blame Free (Tidak Menyalahkan)
Ketika kesalahan diperlakukan sebagai pengalaman belajar, coachee termotivasi untuk mencoba lagi dan belajar dari pengalaman. Menyalahkan dapat membuat coachee berhenti di tengah jalan dan dapat menciptakan keyakinan bahwa prestasi tidak mungkin tercapai dan karena itu tidak layak untuk mencoba lagi.

e. Solution Focus (Fokus pada Solusi)
Ketika coachee memikirkan dan berfokus pada masalah, menjadikan masalah tersebut tampak lebih besar dan sangat menguras energi. Tetapi ketika coachee berfokus pada solusi, masalah yang muncul lebih kecil dan coachee memiliki lebih banyak energi untuk menghadapinya. Inilah sebabnya mengapa berfokus pada solusi sangat menentukan dalam proses coaching dan bidang kehidupan lainnya.

f. Challenge (Tantangan)
Sebagian besar dari kita menyukai tantangan dan mengeluarkan semua kekuatan dan pikiran dalam lingkungan yang mendukung dan mendorong. Ketika menetapkan tujuan dan sasaran lebih tinggi dari yang seharusnya diperlukan, maka coachee dapat dengan mudah mencapai sasaran yang diperlukannya, karena kita cenderung memaksakan batas saat menetapkan tujuan untuk diri kita sendiri.

g. Action
Coaching mengungkap perspektif baru dan kesadaran. Dengan cara ini coachee mendapatkan wawasan baru, yang mengarah kepada lebih banyak pilihan, yang pada gilirannya menumbuhkan keinginan untuk mengambil tindakan dan perubahan.

h. Trust (Kepercayaan)
Kepercayaan sangat penting untuk hubungan antara coach dan coachee. Tanpa kepercayaan, proses coaching tidak akan berlangsung.

4. Manfaat Coaching
Menurut hasil survey Federasi Coach Internasional (dalam Greene and Grant, 2003), manfaat dari coaching di antaranya adalah:
a.       Meningkatkan kinerja individu
b.      Meningkatkan pelayanan
c.       Mengembangkan seseorang ke tingkat yang lebih tinggi
d.      Meningkatkan hubungan yang harmonis
e.      Meningkatkan daya ingat
Coaching bermanfaat untuk membantu seseorang mencapai tujuan dalam kehidupannya. Caranya? Coaching kini memegang prinsip bahwa coachee secara alamiah kreatif, penuh sumber daya, dan merupakan manusia yang utuh. Karena itu ialah yang paling tahu jawaban terhadap kebutuhannya sendiri. Dalam hal ini, coachee dilihat sebagai guru maupun murid. Dengan pendekatan ini coach tidak dilihat sebagai expert (serba tahu dan mempunyai jawaban terhadap semua masalah) dalam kehidupan coachee. Tugasnya adalah mengajukan pertanyaan yang tepat di saat yang tepat agar coachee bisa memulai suatu perjalanan menuju self discovery dan awareness (pemahaman dan kesadaran mengenai keadaan diri sendiri) dari perspektif baru yang berbeda.
Dalam sumber lain dinyatakan beberapa manfaat coaching terhadap coachee sendiri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Clutterbuck bahwa seorang coachee akan:
a.       Memiliki kejelasan tentang pengembangan diri dan karirnya
b.      Mampu berdiskusi dalam lingkungan yang terbuka dan tidak penuh tekanan mengenai masalah-masalah perkembangan karir
c.       Memiliki jaringan kerja yang selalu diperbarui
d.      Mendapatkan saran praktis tentang berperilaku dalam organisasi
e.      Memiliki kesempatan untuk menghadapi tantangan yang membangun
f.        Rasa percaya diri yang meningkat
g.       Transfer pengetahuan
h.      Memiliki model
i.         Kejelasan tentang bagaimana sebenarnya performa mereka dan apa yang menghalanginya untuk menampilkan kinerja yang lebih baik.
Sementara itu Clutterbuck juga memaparkan manfaat coaching bagi coach sendiri, yaitu:
a.       Merupakan proses belajar (seringnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk belajar dari kasus daripada sekadar melakukan coach).
b.      Merupakan kesempatan baginya untuk berlatih melakukan perkembangan perilaku yang baik di luar tanggung jawabnya.
c.       Mengembangkan kesadaran sendiri.
d.      Meningkatkan pemahaman tentang wilayah kerja atau budaya lain menjadi lebih dalam.

Disadur dari BPU COACHING, Edisi Revisi ProDEP 2015
Oleh  :  Amin Hidayat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar