Total Tayangan Halaman

Minggu, 07 Desember 2014

CUBITAN FACE BOOK



‘Murid telat, dihukum. Guru telat, lewaaat…’
Semar menuliskan kalimat itu dengan tinta merah di white board di dalam pendopo. Senyum tipis menyembul dari bibirnya. Sinis. Pendar-pendar asam menyusup keluar melalui celah-celah dinding bambu padepokan.
“Senyum Romo kecut bener, kecium sampai keluar,” gumam Bagong yang muncul bersama Petruk.
Hush! Sama Romonya kok ngomong begitu! Mbok belajar berbicara yang santun. Bisa bahaya kalau ada yang ndak suka!” sergah Petruk.
“Kalian tahu kalimat itu?” tanya Semar tanpa menoleh. “Kalimat itu adalah pisau bermata dua yang dilemparkan tiga bocah di face book. Akibatnya, mereka dikeluarkan dari bangku sekolah, karena dianggap mencemarkan nama baik sekolah.”
Kok bermata dua, Mo? Siapa lagi yang kena akibatnya?” sela Bagong.
“Kamu ini, mbok ya mikir dulu!” sergah Petruk lagi. “Coba pikir! Kalau hanya karena kalimat seperti itu mereka dikeluarkan dari sekolah, kok bisa? Hari gini, gitu loh! Guru mengeluarkan siswanya hanya karena disindir di face book?”

“Ya. Dengan mengeluarkan tiga murid hanya karena ngomongin sebentuk ketidakkonsistenan peraturan sekolah dan kebiasaan buruk para guru, sekolah dalam hal ini guru seperti telah mengumumkan diri sebagai sosok yang tidak sanggup menghadapi perubahan. Tidak mampu menerima kritikan di era keterbukaan IT seperti ini. Romo jadi malu, jangan-jangan juga seperti itu,” tutur Semar tanpa ekspresi.
“Aku sih positive thingking, Mo. Pepatah lama bilang ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’. Pasti masih banyak guru yang tidak ingin ketahuan kencing berdiri agar tidak menemui muridnya kencing berlari. He he, apalagi Romo,” ujar Bagong nakal.
“Bagong. Bagong. Selalu saja bicara seenaknya ke Romo. Kalau ada orang lain mendengar, bisa dianggap ndak sopan,” gumam Petruk.
Eh. Eh. Eh. Imam al-Ghazali pernah berkata, “Orang yang mengetahui adalah orang yang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya. Janganlah menjadi seperti sebatang  jarum yang berfungsi menjahit pakaian [untuk menutupi badan] tapi ia sendiri nampak telanjang.” Kemuliaan, itulah sejatinya guru. Ia tidak akan meminta muridnya istiqomah sebelum dirinya menjadi istiqomah.”

                                                                                                                             Miladiyah Susanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar