Total Tayangan Halaman

Rabu, 29 Februari 2012

ISU LINGKUNGAN SEKITAR SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS



Tahu Kedelai

A.  Isu Lingkungan
      1.  Limbah Tahu: Bahaya yang Tak Disadari
Kerusakan lingkungan menjadi masalah global. Bumi semakin rapuh. Cuaca makin tak bersahabat. Kehidupan bumi terancam oleh efek rumah kaca, hujan asam, dan kerusakan lapisan ozon, (Otto Sumarwoto, 1991:14).
Kenaikan kadar CO2 dapat disebabkan oleh laju pemakaian bahan bakar minyak, batu bara, dan bahan bakar organik lainnya. Baik dalam kegiatan rumah tangga maupun industri. Cukup mengejutkan jika kemudian diketahui bahwa salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca yang cukupsignifikan di Indonesia adalah industri tahu.
Data dari Kementrian Negara Riset dan  Teknologi (KNRT) menyebutkan bahwa hingga Mei 2010 produksi tahu secara nasional sekitar 2,56 juta ton per tahun. Jumlah ini dihasilkan dari lebih kurang 84.000 unit usaha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut diperkirakan potensi reduksi emisi gas karbondioksida (CO2) mencapai satu juta ton ekuivalen per tahun(http:/bataviase.co.id/246536).
Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah merupakan salah satu sentra industri tahu yang cukup potensional. Di desa seluas 136 ha, dengan penduduk 1276 KK atau sekitar 5017 jiwa ini setidaknya terdapat 312 industri tahu, berskala kecil. Data terakhir yang dilansir aparat desa menyebutkan, setidaknya 7,2 ton tahu diproduksi dari desa ini setiap hari.
Limbah Industri Tahu
Bukan hanya dalam bentuk gas yang dihasilkan dari penggunaan kayu, bubuk kayu. atau sekam, sebagai bahan bakar, industri tahu juga menyumbang limbah cair yang diprediksi mencapai 20 juta meter kubik per tahun. Limbah tersebut mengandung beberapa zat yang ditengarai merusak lingkungan. Yaitu;  chemical oxygen demand (COD) yaitu kebutuhan oksigen kimiawi di perairan untuk bereaksi dengan limbah, biological oxygen demand (BOD) yang merupakan kebutuhann oksigen mikroorganisme untuk memecah bahan buangan di perairan, dan tingkat keasaman (pH) yang tinggi. Kadar COD dan BOD pada limbah cair tahu yang mencapai 10.000-15.000 mg per liter, mengakibatkan air yang dibuang minim oksigen. Akibatnya ikan-ikan yang tercemar mati karena kekurangan oksigen. Sedangkan limbah tahu cair yang dibiarkan begitu saja akan menghasilkan gas metan yang berbahaya bagi manusia.

Sampai hari ini,  masyarakat Desa Kalisari belum banyak yang menyadari tentang bahaya limbah tahu jika dibiarkan atau dibuang begitu saja. Mereka tidak menyadari bahwa ada  banyak dampak negative, termasuk pada hasil pertanian khususnya produksi padi di lingkungan tersebut. Bahkan sebagian justru beranggapan limbah tahu mengandung nitrogen yang bisa menyuburkan tanah, dan menumbuhkan cacing-cacing. Anggapan keliru ini bukan hanya dipahami oleh hampir seluruh masyarakat, melainkan juga perangkat desa.
Dengan minimnya pengetahuan tentang dampak buruk limbah tahu, masyarakat di desa ini merasa tak berdosa membuang limbah cairnya begitu saja, tanpa diolah. Satu-satunya limbah industri tahu yang telah dimanfaatkan dan diolah kembali hanyalah limbah padat berupa ampas tahu, yang oleh sebagian pengrajin diolah kembali menjadi berbagai makanan olahan seperti; tempe gembus dan  ranjem. Ada pula yang memanfaatkannya sebagai pakan ternak, terutama babi.

Ipal di Kalisari, Cilongok
Sebenarnya, pada pertengahan 2009, tim dari KNRT telah mengadakan kegiatan mitigasi emisi GRK yang dihasilkan industri tahu di Desa Kalisari. Tim ini juga memperkenalkan teknologi tepat guna instalasi pengolahan limbah (Ipal) kepada para pengrajin tahu dan perangkat desa. Pertengahan 2010, setahun kemudian, masih ada seorang kepala dusun yang mengatakan bahwa sebenarnya limbah cair dari produksi tahu tersebut tidak menimbulkan gangguan apa pun terhadap pertanian. Yang banyak dikeluhkan hanyalah bahwa air tanah berbau tak sedap, bisa menimbulkan gatal jika dipakai mandi, bahkan sering menimbulkan radang usus. Sedangkan jika dimanfaatkan untuk campuran adonan semen, konstruksinya menjadi rapuh. Sejak Mei 2010, di Desa Kalisari telah dibangun sebuah unit pengolahan limbah tahu cair. Teknologi Ipal yang diterapkan mengacu pada pengolahan limbah kotoran hewan untuk menghasilkan biogas. Proyek percontohan yang diprakarsai oleh KNRT tersebut menerapkan system anaerobic (kedap udara) dengan fixed bed reactor. Satu unit yang telah selesai dibangun berkapasitas 20 meter kubik per hari atau setara dengan 1200 kg kedelai per hari. Jumlah ini kira-kira cukup untuk 13 produsen tahu.  Selain di Desa Kalisari, unit serupa dibangun di setra tahu lainnya, Desa Cikembulan, Kecamatan Pekuncen, yang berkapasitas 5 meter kubik per hari, setara dengan 300 kg kedelai per hari, untuk 5 pengrajin tahu.
Pada prinsipnya, dengan unit teknologi ipal ini limbah cair tahu tidak langsung dibuang ke sungai atau parit, tetapi ditampung di dalam bak penampung, kemudian disalurkan ke bak pengatur. Selanjutnya limbah disalurkan ke unit utama berupa reactor (digester) yang berfungsi mengkonversi limbah cair menjadi gas. Di dalam digester terjadi proses metanogenesis dan hidrolisis yang menghasilkan gas metan. Proses ini setidaknya memerlukan waktu tiga hari. Lalu, gas disalurkan ke tabung gasholder yang dirancang sedemikian rupa hingga memiliki tekanan tertentu, untuk kemudian disalurkan ke rumah warga sebagai bahan bakar alternatif menggantikan kayu bakar, minyak tanah, batu bara, atau gas yang sebelumnya digunakan baik untuk memasak sehari-hari maupun untuk keperluan industri tahu mereka.

Ipal Industri Tahu
Setelah melalui Ipal ini, limbah cair dari industri tahu bermanfaat sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan. Selain itu, kadar COD dan BOD yang semula mencapai 10.000-15.000 mg per liter, mampu ditekan menjadi 2.000-3.000 mg per liter.
  





     2.  Pendidikan Lingkungan Hidup Sekedar Wacana?
Meski telah ada Kesepakatan Bersama antara Menteri Negara Lingkungan Hidup denganMenteri Pendidikan Nasional No. Kep 07/MENLH/06/2005 – No. 05/VI/KB/2005 tentang Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup yang antara lain bertujuan untuk bersama-sama menumbuhkan dan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai wawasan lingkungan hidup kepada peserta didik dan masyarakat, tampaknya hingga kini belum jelas  betul ada hasilnya.
Pendidikan lingkungan hidup dalam kurikulum saat ini terintegrasi dengan semua mata pelajaran, dengan harapan bahwa akan dicapai aspek afektif berupa  tingkah laku, sikap positif, nilai, dan komitmen terhadap lingkungannya. Namun dalam pelaksanaannya, hal itu sulit diwujudkan mengingat sistem pendidikan bangsa ini yang masih mengutamakan perolehan skor, sehingga praktis lebih mengedepankan aspek kognitif. Tak dapat dipungkiri bahwa konsentrasi guru sebagai penyaji, motivator, stimulator, sekaligus fasilitator dalam pelaksanaan pendidikan, terutama di tingkat SMP dan SMA, saat ini nyaris terpusat pada upaya untuk meluluskan anak didiknya dalam ujian nasional. Dengan demikian aspek afektif yang sulit diukur dengan skor langsung semacam itu menjadi terbengkelai.
Sekolah atau guru dalam hal ini tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Pasalnya, pengintegrasian pendidikan lingkungan hidup ke dalam semua mata pelajaran yang diarahkan pada isu lingkungan terdekat dengan sekolah, hanya dapat dilaksanakan oleh guru-guru yang memang memiliki kemampuan sekaligus integritas yang baik pula terhadap lingkungannya. Sementara diakui atau tidak, sampai saat ini masih patut dipertanyakan apakah para guru memiliki kemampuan yang memadai dan memahami wawasan yang cukup tentang pembangunan berkesinambungan yang mengedepankan tiga pilar sekaligus yaitu; ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pun kesadaran guru terhadap kelestarian lingkungan hidupnya sendiri juga masih disangsikan.
Kondisi ini diperparah lagi dengan perkembangan dunia  pendidikan yang tumbuh bak industri. Akibatnya institusi pendidikan tak ubahnya sebuah pabrik nilai, gelar dan ijazah, sehingga untuk mendapatkan produk-produk tersebut siapapun yang memiliki uang dapat membelinya.
Mengingat berbagai keterbatasan tersebut, tak heran jika materi lingkungan hidup, terutama isu-isu lingkungan yang bersifat lokal seperti bahaya limbah tahu di Desa Kalisari sama sekali tak disentuh dalam kegiatan belajar mengajar sekolah-sekolah di sekitarnya, termasuk SMP N 2 Cilongok yang berlokasi tepat di sebelahnya. Sampai saat ini materi yang bernuansa muatan lokal lebih banyak diberikan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Pemahaman tentang muatan lokal pun sebatas pada jenis keterampilan dan atau seni budaya yang berkembang di masyarakat. Sedangkan kegiatan yang langsung berkaitan dengan lingkungan hidup, semacam kelompok pecinta alam, masih sangat jarang diselenggarakan.

B.  Tujuan / Manfaat
  1. Meningkatkan pemahaman guru tentang wawasan pembangunan berkesinambungan yang memperhatikan lingkungan sebagai salah satu pilar utama.
  2. Meningkatkan kreativitas guru untuk mengembangkan proses belajar dengan materi ajar yang berwawasan lingkungan.
  3. Peserta didik dapat menemukan isu-isu lingkungan yang ada di sekitar sekolah.
  4. Peserta didik dapat mengidentifikasi faktor-faktor penyebab isu lingkungan yang bersangkutan.
  5. Peserta didik dapat mengemukakan pendapat tentang alternatif tindakan yang dapat diambil untuk menjawab isu lingkungan yang tengah dihadapi.

C.   Materi yang Relevan
Pengintegrasian Pendidikan Lingkungan Hidup ke dalam semua bidang ajar, terutama isu-isu lingkungan yang hangat di sekitar siswa, sudah semestinya menjadi bahan ajar pokok. Dengan dimikian materi ajar akan langsung bersentuhan dengan kehidupan siswa dan masyarakat, sehingga diharapkan tumbuh pula sikap dan nilai positif  terhadap lingkungannya. Lebih lanjut hal ini akan mengantar pada tercapainya tujuan utama pendidikan lingkungan hidup sebagai suatu proses membangun populasi manusia di dunia yang sadar dan peduli terhadap lingkungan total (keseluruhan) dan segala masalah yang berkaitan dengannya, dan masyarakat yang memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan tingkah laku, motivasi serta komitmen untuk bekerja sama, baik secara individu maupun secara kolektif, untuk dapat memecahkan berbagai masalah lingkungan saat ini, dan  mencegah timbulnya masalah baru, seperti dirumuskan UNCED (http://agtamrin.staff.fkip.uns.ac.id /2008/09/17).
Di dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (SKKD IPS) SMP yang dipakai oleh guru IPS SMP sebagai acuan untuk memilih dan menyampaikan bahan ajar tersebut, permasalahan lingkungan terintegrasi di kelas VIII semester I. Salah satu butir strandar kompetensi berbunyi, ”Memahami permasalahan sosial berkaitan dengan pertumbuhan jumlah penduduk,” diharapkan dapat tercapai kompetensi dasar antara lain berupa mendeskripsikan permasalah lingkungan hidup dan upaya penanggulangannya dalam pembangunan berkelanjutan. 
Dengan pertimbangan isu lingkungan di sekitar sekolah yang tengah hangat sebagaimana dikemukakan di muka, materi ajar yang patut dan relevan adalah sebagai berikut.

1.  Materi Pemahaman (Kognitif)
Masalah lingkungan yang kini terus memanas dan menjadi isu global setidaknya ada tiga. Yaitu; efek rumah kaca, hujan asam, dan kerusakan lapisan ozon.

a.  Efek Rumah Kaca

Efek Rumah Kaca
Efek Rumah Kaca (ERK) ialah naiknya suhu permukaan bumi karena naiknya kadar CO2 dan beberapa gas lainnya di udara, yang melebihi batas kemampuan alam untuk menyerapnya. Dengan naiknya kadar CO2 dalam atmosfer, makin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap oleh atmosfer bumi. Dengan demikian naiklah suhu permukaan bumi, (Otto Sumarwoto, 1991:11).
Istilah ini berasal dari pengalaman orang-orang di daerah beriklim sedang yang menggunakan rumah kaca (green house) untuk memelihara tanaman sayur, bunga, dan buah. Suhu di dalam rumah kaca selalu lebih tinggi daripada di luar, karena panas dalamnya tidak dapat keluar lalu diserap oleh kaca.
ERK berpengaruh terhadap perubahan iklim di bumi dan mempengaruhi sistem pertanian. Efek lainnya adalah naiknya suhu air laut, sehingga air mengembang  sehingga volume air laut pun meningkat, dan dampaknya adalah naiknya permukaan air laut.

b.  Hujan Asam

Proses Terjadinya Hujan Asam
Hujan asam terjadi karena proses kimia yang terjadi di udara antara oksida belerang dan nitrogen dari limbah pembakaran bahan bakar, hingga menjadi asam. Asam tersebut kemudian turun ke bumi bersama hujan.
Akibat yang ditimbulkan antara lain kematian organisme air di sungai dan danau. Hutan pun akan rusak.



c.  Kerusakan Lapisan Ozon

Ozon ialah senyawa kimia yang terdiri atas tiga atom oksigen. Di lapisan atas atmosfer ia berfungsi menghalangi sinar oltraviolet yang dipancarkan matahari sampai ke bumi. Jika kadar ozon pada lapisan itu berkurang, kadar sinar ultraviolet yang sampai ke bumi bertambah, sehingga dapat meningkatkan resiko berjangkitnya penyakit kanker kulit, katarak, dan menurunnya kekebalan tubuh.

d.  Bahaya Limbah Tahu

Limbah Tahu
Pengolahan kedelai hingga menjadi tahu melalui serangkaian proses. Dari mulai memilih kedelai berkualitas, perendaman, penggilingan, pemasakan, pemerasan sampai proses akhir berupa penambahan warna maupun bumbu tertentu. Hasilnya berupa tahu yang lezat dan bergizi tinggi. Di samping itu, juga dihasilkan tiga macam limbah. Yaitu; yang berupa gas, limbah cair, dan limbah padat.
Limbah gas berasal dari asap pembakaran dalam proses pemasakan yang menggunakan bahan bakar kayu, minyak tanah, batu bara, maupun bahan bakar organik lain. Dari  pembakaran tersebut dihasilkan gas karbondioksida (CO2) yang mencemari udara. Bahkan dari lebih kurang 84 ribu industri tahu di seluruh Indonesia yang berkapasitas tak kurang dari 2,56 juta ton per tahun itu saja, reduksi emisi CO2 yang dihasilkan mencapai satu juta ton ekuivalen per tahun. Jumlah yang cukup signifikan menyumbang terjadinya ERK di Indonesia.
Limbah cair yang dihasilkan dari industri tahu berupa air sisa perasan kedelai yang telah diambil sarinya. Limbah ini tampak tidak berbahaya sehingga biasanya diabaikan, baik oleh produsen tahu maupun  warga masyarakat sekitarnya. Kalaupun ada keluhan biasanya terbatas pada bau tak sedap dan kotor. Limbah cair ini mengandung chemical oxygen demand (COD), biological oxygen demand (BOD), dan memiliki tingkat keasaman (pH) tinggi. COD adalah kebutuhan  oksigen kimiawi di perairan untuk bereaksi dengan limbah, sedangkan BOD ialah kebutuhan oksigen mikroorganisme untuk memecah bahan buangan di perairan. Kadar COD, BOD, maupun pH yang cukup tinggi terkandung dalam limbah cair tahu akan berpengaruh pada penurunan hasil pertanian, terutama sawah, dan matinya sejumlah hewan kecil seperti ikan. Selain itu jika dibiarkan menggenang begitu saja, limbah ini akan menghasilkan gas metan yang berbahaya.
Limbah padat dari produksi tahu berupa ampas kedelai. Masyarakat memanfaatkan limbah ini untuk berbagai keperluan. Antara lain diolah kembali menjadi bahan makanan, seperti; tempe gembus, ranjem, kerupuk dan oncom. Ada pula yang memanfaatkannya sebagai pakan ternak, terutama babi.

      2.   Materi Ketrampilan/ Kecakapan Hidup (Life Skill)

Image Detail
Kecakapan Hidup
Limbah dapat didaur ulang atau diolah dengan berbagai cara sedemikian rupa sehingga menjadi bermanfaat. Selain itu, pengolahan limbah juga dapat meminimalisir dampak negatif yang membahayakan kehidupan dan berpotensi merusak lingkungan hidup manusia. Misalnya limbah padat dari industri tahu yang berupa ampas kedelai dapat diolah kembali menjadi berbagai jenis makanan. Demikian juga dengan pengolahan limbah cairnya dengan teknologi relatif sederhana dan biaya murah, dapat diubah menjadi biogas. Hasilnya  selain bermanfaat bagi warga sebagai bahan bakar murah juga sekaligus menekan dampak zat-zat kimia yang berpotensi mencemari air maupun tanah di sekitarnya hingga 80%. Demikian pula pembuangan sisa pembakaran berupa gas CO2 sebagai penyebab utama efek rumah kaca dapat ditekan.
Perkenalkan kepada siswa contoh pengolahan limbah yang sederhana beserta langkah-langkahnya.  Selanjutnya siswa mencari dan menemukan ide-ide lain guna mengolah limbah yang ditemuinya.



DAFTAR PUSTAKA

Dasim Budimansyah. 2003. Model Pembelajaran Portofolio. Bandung : PT Genesindo

David Lucas, dkk. 1990. Pengantar Kependudukan. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press

Otto Soemarwoto.1991.Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta : Penerbit
Djambatan.

http:/bataviase.co.id/246536, diakses tanggal 4 Oktober 2010

http://agtamrin.staff.fkip.uns.ac.id/2008/09/17, diakses tanggal 4 Oktober 2010






Tidak ada komentar:

Posting Komentar