Total Tayangan Halaman

Senin, 09 Februari 2015

PARADIGMA PEMBELAJARAN



Kebijakan pembaharuan kurikulum harus dipahami sebagai upaya mengikuti dinamika, menjawab kebutuhan seiring dengan realitas, perubahan dan tantangan jaman. Namun bagi guru selaku pelaku/praktisi pendidikan, jangan sampai terjebak pada kondisi apatis yang berbau politis.

Apapun nama dan bentuk kurikulumnya, tugas guru tetap bermuara pada kegiatan pembelajaran. Bagaimana mengelola pembelajaran mengoptimalkan capaian domain sikap, pengetahuan dan ketrampilan peserta didik menuju mastery learning, adalah fokus bidang garapan guru.
            Tiga ranah ini (pengetahuan, keterampilan dan sikap) selalu menjadi objek pembaharuan kurikulum dengan lebel pendidikan lebih berkualitas. Sebagus apapun rancangan kurikulum, sebaik apapun perencanaan pembelajaran, apabila si aktor plus fasilitator (guru) tidak mampu mengambil peran (tidak memiliki karakter kuat dan cerdas) maka proses pembelajaran tetap berkutat pada itu-itu saja ( guru sentris),  ini biasa disebut pembelajaran konvensional kalau tidak ingin disebut expaired (kadalu warsa).
            Intinya, pijakan tugas utama guru yang tak pernah lekang oleh waktu dan pergantian kurikulum adalah dalam hal pembelajaran. Reigeluth dalam Martinis Yamin (2013 : 16) menyatakan bahwa kurikulum berkaitan dengan dengan apa yang diajarkan, sedangkan pembelajaran berkaitan dengan bagaimana mengajarkannya. Jadi sebaiknya guru saat ini tidak usah risau terkait bongkar pasang kurikulum 2013, justru benahi proses pembelajarannya dalam hal menangani capaian sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Mengingat muatan konten baik pada kurikulum 2006 ataupun 2013 sudah jelas regulasinya.            Alangkah bijaknya seandainya guru mau mereview kembali terkait apa itu mengajar, esensi pembelajaran dan mendidik. Dengan harapan setelah ini mampu memahami perubahan paradigma pembelajaran. Berikut sekilas ulasan tentang itu.


Esensi Pembelajaran
Sejatinya pembelajaran merupakan suatu desain dan pengembangan penyajian informasi dan aktivitas-aktivitas yang diarahkan pada hasil belajar tertentu. Hasil pembelajaran yang diperoleh peserta didik merupakan kail bukan ikan. Artinya, jika hasil pembelajaran yang diperoleh berupa ikan, maka setelah ikannya habis ia tidak dapat mencari ikan sendiri. Tetapi sebaliknya, jika hasil pembelajaran berupa kail, maka ia akan dapat mencari ikan sendiri. Esensinya, dalam pembelajaran peserta didik harus yang menjadi aktor, melakukan ataupun melakoni sehingga mendapat pengalaman, bukan sekedar transfer of knowledge. Singkatnya, pembelajaran ditujukan untuk menggali pengalaman (Wiji Suwarno, 2006: 59).

Mengajar adalah Belajar
Karakteristik yang membedakan manusia dan makhluk lain salah satunya adalah kapasitas untuk belajar. Belajar mencakup berusaha mengetahui hal-hal yang baru, metode baru, cara berfikir baru dan bahkan juga perilaku baru (Sondang P. Siagian, 2012 : 106). Tingkat kemajuan yang diraih oleh seseorang ditentukan oleh kemampuannya belajar.
Guru yang konsisten terhadap profesinya selalu belajar dan mengembangkan diri setiap waktu dan sepanjang hayat. Persiapan untuk mengajar adalah tahapan belajar. Penguasaan konsep dan menyusun strategi dalam pembelajaran merupakan skill dan kecerdasan tersendiri. Ia tidak merasa paling pintar di hadapan murid-muridnya di kelas. Jika guru dihadapkan kesulitan di kelas saat mendapat pertanyaan siswa, terbuka secara jujur akan mencari jawaban dengan membaca buku kembali (belajar) sebagai solusi bijak untuk disampaikan pada pertemuan selanjutnya.

Mengajar yang Mendidik
Guru harus memiliki kemampuan mengajar yang benar. Pemahaman konsep bahan ajar, ketrampilan mengajar yang kreatif dan inspiratif adalah modal utama. Guru bukan hanya mampu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, tetapi juga mampu mengembangkan pembelajaran tersebut dengan melandasi dan menanamkan nilai-nilai karakter/pendidikan.
Ada beberapa mitos pengajaran yang telah berlaku beberapa generasi, menurut Abu Hamadi dan Widodo Supriyono (2013 : 238-239) berikut ini.
1.      Guru harus bersikap tenang, tak berlebih-lebihan dan dingin dalam menghadapi setiap situasi. Tidak boleh kehilangan akal, marah sekali ataupun menunjukkan kegembiraan yang berlebih-lebihan.
2.      Guru harus dapat menyukai siswa-siswanya secara adil, tidak boleh membenci dan memarahi.
3.      Guru harus memperlakukan siswa-siswanya secara sama, tanpa memperdulikan watak –watak individual siswa.
4.      Guru harus mampu menyembunyikan perasaannya, meskipun terluka hatinya.
5.      Guru diperlukan oleh siswa-siswanya, karena merasa belum dapat bekerja sendiri dan bertanggung jawab atas belajarnya sendiri di kelas.
6.      Guru harus dapat menjawab semua pertanyaan yang disampaikan siswa-siswanya.

Mendidik dengan Hati
Suatu aktivitas dapat dinilai benar atau salah, tergantung pada niat dan maksud suara hatinya. Peran hati terhadap seluruh anggota dan organ tubuh dapat diibaratkan seperti raja dengan prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. Sebagaimana tersurat dalam hadist Nabi SAW sebagai berikut :
Hati adalah raja anggota tubuh. Dan anggota tubuh adalah prajuritnya. Apabila raja baik, maka baik pulalah para prajuritnya. Dan apabila raja busuk, maka busuk pulalah para prajuritnya (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu guru mendidik dengan hati merupakan pemahaman yang paling utama agar aktivitas hidup peserta didik berjalan dengan benar. Demikian pula dalam mengawali pembelajaran harus bisa ‘membuka hati’ peserta didik. Jika telah terbuka, mereka akan tertarik dan antusias untuk belajar. Hubungan hati dengan dengan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual menurut M. Furqon Hidayatullah (2009: 127) dapat digambarkan sebagai berikut.










Pembelajaran Berkualitas
Pembelajaran berkualitas sosok guru menyitir pendapat W. James Popham dan Rva L. Baker (2005 :6),  lahir bukan dari pertanyaan  “ Apakah yang akan saya lakukan?” Hal ini berbahaya karena orientasi pada prosedur instruksional saja, bukan pada hasil yang dapat dicapai dengan prosedur tersebut. Yang seharusnya ditanyakan oleh setiap guru kepada dirinya sendiri yaitu, “Perubahan apakah yang saya inginkan dalam diri siswa siswa saya?”
Minimal ada 6  indikator, pembelajaran dikategorikan berkualitas, yaitu : Menantang, menyenangkan, mendorong eksplorasi, memberi pengalaman sukses, mengembangkan kecakapan berpikir dan Inspiratif.

Pergeseran Arah dan Pendekatan Pembelajaran
Beberapa pergeseran arah dan pendekatan yang tidak bisa dielakkan dalam pembelajaran, Kunandar (2007 : 22-23) merinci sebagai berikut.
1.      Peran guru sebagai knowledge agent bergeser menjadi learning agent, yang mendorong, membantu, dan mengerahkan peserta didik  untuk mengalami proses pembelajaran.
2.      Proses pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi menjadikan kebiasaan dan cara berfikir peserta didik didominasi oleh cara kerja computer, memungkinkan dilakukannya proses pendidikan individual dan melek budaya (cultur literacy) secara instan. Program pendidikan yang semula dirancang dan dilakukan oleh manusia digantikan oleh perangkat lunak.
3.      Pendidikan yang secara konvensional diarahkan agar lulusan dapat memperoleh pekerjaan regular ini dianggap mengurangi kelenturan pasar kerja, mengingat pekerjaan yang dilakukan secara manual dan algoritmik oleh tenaga manusia kini dilakukan oleh mesin otomatis. Kompetensi yang diperlukan pasar kerja kini bergerak dari spesialisasi yang terfokus ke generalis yang multidisipliner.
 
Simpulan
Agar guru mampu menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran dengan baik, maka diperlukan sosok guru yang mampu mengajar dan pandai mendidik. Ia bukan hanya mampu menstrasfer pengetahuan, tetapi ia juga mampu menanamkan nilai-nilai karakter. Inilah paradigma pembelajaran kekinian. Figur guru juga harus cerdas. Ia bukan hanya memiliki kemampuan yang bersifat intelektual, tetapi juga memiliki kemampuan secara emosi dan spiritual. Dengan demikian guru nantinya bisa membuka mata hati peserta didik untuk belajar, sehingga memiliki life skill untuk siap berkiprah di masyarakat.
Pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasar kompetensi guru di kelas. Seorang jurnalis bernama William Athur Ward, pernah menggolongkan menjadi 4  ; Guru yang biasa,   dengan berbicara. Guru yang bagus, dapat menerangkan. Guru yang hebat, terampil mendemostrasikan. Guru yang agung, mampu memberi inspirasi.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. 2013. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Rineka Cipta
Hidayatullah, M. Furqon. 2009. Guru Sejati : Membangun Insan Berkarakter Kuat & Cerdas. Surakarta : Yuma Pustaka.
Kunandar. 2007. Guru Profesional. Jakarta: PT RajaGravindo Persada
Popham, W James dan Eva L. Baker. 2005. Teknik Mengajar Secara Sistematis. Jakarta : PT Rineka Cipta
Siagian, Sondang P. 2012. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta : PT Rineka Cipta
Suwarno, Wiji. 2006. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Yamin, Martinis. 2013. Strategi & Metode dalam Model Pembelajaran. Jakarta : Referensi (GP Press Group)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar