Total Tayangan Halaman

Senin, 30 Januari 2012

CAGAR BUDAYA BANYUMAS


Pesarehan Dawuhan


a)   Pasarehan Dawuhan
                                           Pesarehan Dawuhan adalah makam para pepunden (pendiri dan petinggi) Banyumas. Ada 12 orang yang pernah menjadi Bupati Banyumas dimakamkan di pesarehan ini. Bupati Banyumas pertama, Jaka Kaiman, yang dikenal sebagai Adipati Mrapat juga dimakamkan di tempat ini. Selain itu juga terdapat makam tiga orang Bupati Purwokerto dan dua orang Bupati Purbalingga (Koderi, 1991:36).
Dalam buku itu disebutkan pula bahwa pesarehan seluas lima hektare tersebut berada di lereng Pegunungan Serayu, kurang lebih sejauh lima kilometer sebelah barat kota Banyumas.  Pada bulan Ruwah (sya’ban) pesarehan ini sering dikunjungi peziarah, baik yang sekedar ingin berdoa  maupun mereka yang menginginkan hajat tertentu.
 Menurut riwayat, sebagaimana disampaikan oleh Bambang S Purwoko, Desa Dawuhan dulunya merupakan desa perdikan yang dikepalai seorang demang. Namun sejak proklamasi kemerdekaan RI, status tersebut dihapus, sesuai dengan Undang-undang No. 13 tahun 1946, tentang penghapusan kedudukan desa-desa perdikan. Dalam Babad Banyumas yang disusun oleh dan atas perintah Pangeran Juru Pensiun Pepatih Dalem Kasultanan Yogyakarta, Pasarehan Dawuhan dinamakan Astana Redi Bendungan (wawancara tanggal 28 Oktober 2009).
Upaya pemeliharaan dan pelestarian makam bersejarah bagi masyarakat Banyumas ini telah dilakukan. Mulanya hanya dibentuk sebuah panitia perbaikan yang disebut Panitia Perbaikan Makam Dawuhan Banyumas. Lalu pada tanggal 12 Januari 1977 dibentuk ”Yayasan Pasarehan Dawuhan Banyumas” yang bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan pelestarian situs budaya ini.
Di dalam kompleks makam ini berdiri sebuah masjid yang sudah cukup tua bernama ”Masjid Nurul Huda”. Masjid ini didirikan oleh Tumenggung Cakrawerdana I, Bupati Banyumas XIII, sekitar tahun 1830.   

b)   Pendapa si Panji
Ketika Kanjeng Raden Adipati Cakranegara I menjabat sebagai Bupati Banyumas, dan residennya adalah S. Van Deventer, banjir besar atau yang lebih dikenal dengan ’Blabur Banyumas’ merendam ibukota kabupaten dengan ketinggian mencapai tiga meter. Peristiwa ini berlangsung selama tiga hari, dari hari Kamis wage sampai dengan Sabtu legi yang bertepatan dengan tanggal 21-23 Pebruari 1861 M (Bambang S. Purwoko, tanpa tahun:2).
Sebelum terjadi banjir ada sesepuh Banyumas yang mengatakan ” Bakale ana betik mangan manggar” artinya suatu ketika akan terjadi ikan betik memakan manggar (bunga kelapa). Orang baru mengerti maksud perkataan itu setelah terjadi banjir. Rupanya tinggi air mencapai tinggi pohon kelapa yang baru keluar bunganya, yaitu setinggi tiga sampai empat meter,  (M. Koderi, 1991:108).
Konon, ketika air yang masuk menggenangi halaman pendapa semakin tinggi, saka guru (tiang utama) pendapa itu terangkat seolah-olah terapung. Setelah air surut, saka guru itu masih berdiri pada tempat semula, tidak bergeser sedikitpun dan masih kokoh. Walaupun terkesan fiktif, cerita tersebut dipercaya benar-benar terjadi dan menimbulkan kekagumam warga Banyumas. Sejak saat itu, saka guru dianggap benda keramat dan memiliki kekuatan gaib, sehingga setiap malam Jum’at kliwon dan Selasa kliwon selalu diberi sesaji berupa bunga, kelapa muda hijau dan kemenyan, (wawancara dengan Bambang S Purwoko).
Pada tanggal 5 Maret 1937, ibu kota Kabupaten Banyumas pindah ke Purwokerto. Pendapa dan saka gurunya ikut dipindahkan. Prosesi pemindahannya pun melalui upacara dengan berpantang melewati Kali Serayu. Pendapa tersebut kini dinamakan Pendapa si Panji. Nama si Panji mungkin diambil dari nama salah seorang Bupati Banyumas yang membangunnya, yaitu Raden Adipati Panji Gandakusuma yang sebelumnya bernama R. Mertawijaya, putra dari Yudanegara I (Warwin R. Sudarmo dan Bambang S. Purwoko, 2009:187).
Masjid Cikakak sewbelum di pugar
                      c)   Masjid Saka Tunggal Cikakak
Masjid Saka Tunggal Cikakak merupakan salah satu peninggalan sejarah dan purbakala yang dilindungi dan terdaftar dengan nomor Inventaris : 25.02.89 (Daftar Inventaris Peninggalan Sejarah dan Purbakala Se-Jawa Tengah Tahun 1980/1981:89). Masjid ini didirikan oleh Mbah Toleh Mustholih di Desa Cikakak dekat Wangon. Masjid itu dianggap istimewa karena hanya memiliki satu saka (tiang)  yang menyangga atap tepat di tengah bangunan, sehingga dinamai Masjid Saka Tunggal. Sekarang masjid ini dinamakan ”Masjid Baitussalam”.
Bangunan Masjid Saka Tunggal, seperti layaknya bangunan masjid di Jawa Tengah, berbentuk tajug. Menurut keterangan Sopani, juru kunci, masjid ini didirikan tahun 1288 sebagaimana keterangan yang tertulis dengan angka Arab pada Saka Tunggal. Pada mulanya masjid ini beratap ijuk, kemudian diganti dengan sirap pada masa Bupati Banyumas Poedjadi Djaring Bandayoeda pada tahun 1977. Ketika Djoko Soedantoko menjabat sebagai bupati, pada tahun 1994 masjid ini kembali dipugar sesuai ukuran aslinya 12 m x 18 m dan beratap ijuk (wawancara dengan Sopani, tanggal 23 Nopember 2009). Puncak atap (mustaka) berbentuk piramida dan pada ujung atasnya berakhir dengan bentuk bulatan. Pada bagian bulatan ini diberi sembir-sembir, sehingga berkesan seolah-olah putik dan daun bunga. Tiap ujung tepian atap diberi bungkak, yaitu hiasan melengkung yang lazim digunakan pada bangunan tradisional di daerah Jawa Tengah bagian selatan.
Bagian dalam masjid dihiasi relief dan kaligrafi dengan media cat. Hiasan-hiasan tersebut antara lain terdapat pada tiang utama,  langit-langit, dinding samping bangunan, emprit ganthil, mihrab, dan mimbar. Hiasan pada tiang mulai dari bawah (umpak) sampai ke batas penyangga sayap (kapitil) pertama. Keempat sisi tiang dihiasi relief bermotif sulur gelung mengarah ke atas dengan warna selang-seling merah, kuning tua, hijau tua dan selingan daun dan bunga berwarna putih.
Langit-langit yang terbagi empat bidang, juga penuh dengan hiasan. Pada keempat bidang tersebut terbentuk garis diagonal yang berbentuk anak panah, tertuju ke sebuah lingkaran di tengah bidang. Hiasan pada lingkaran ini seolah-olah melambangkan matahari. Sedangkan pada bagian segi tiga di antara diagonal terdapat tanda ’ + ’ yang melambangkan bintang.
Di antara pintu mihrab terdapat relief besar bermotif sulur daun bunga yang bergelung. Di atas relief tertulis ayat-ayat suci Al-Qur’an pada papan berwarna hijau tua. Tempat pertemuan antara tiang yang berdiri di kanan kiri mihrab dengan balok blandar dan pengeret terdapat relief berbentuk sayap. Sedangkan mimbar yang seluruhnya terbuat dari kayu jati juga penuh dengan hiasan relief bermotif bunga dengan daun bunga melebar dan menggelung ke kanan dan ke kiri (hasil obsevasi, tanggal 23 Nopember 2009).
Sopani juga menegaskan bahwa bangunan dan benda yang masih asli meliputi saka guru, bedug, kenthong, mimbar, tongkat, ornamen depan pengimaman, lampu lentera, dan bak air. Sampai sekarang bangunan tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya, dan ramai dikunjungi masyarakat, terutama saat liburan,
Satu hal yang paling khas di kawasan Masjid Saka Tunggal adalah hadirnya kera liar yang jumlahnya cukup banyak di sekitar bangunan. Pada dasarnya kera-kera tersebut tidak dipiara secara khusus, tetapi dilindungi dan habitatnya berada di dalam hutan dekat masjid. Binatang itu menjadi terkesan jinak jika diberi makanan  berupa kacang oleh pengunjung. 

KESENIAN BANYUMAS




a)   Ebeg
Ebeg adalah salah satu bentuk tarian rakyat yang berkembang di daerah Banyumas. Di tempat lain, kesenian ini dikenal dengan nama Jaran Kepang, Kuda Lumping, atau Jathilan. Walaupun namanya tidak sama, namun dilihat dari gerak tari, adanya segmen intrance (kerasukan) pada para pemain maupun penonton,  dan peralatannya, pada dasarnya sama.
Sejarah pertunjukan ebeg menurut M. Koderi (1991:70),  lahir di tengah-tengah rakyat pedesaan, di luar tembok istana. Masyarakat Banyumas  berpendapat bahwa ebeg dahulunya merupakan tarian sakral yang biasa diikutsertakan dalam upacara keagamaan. Umurnya sudah sangat tua. Tidak ada literatur atau catatan pasti mengenai lahirnya ebeg. Perkembangannya sejak sekitar abad ke -19 sampai sesudah kemerdekaan mulai dibumbui dengan unsur-unsur magis. Pemain dibuat kerasukan (kesurupan) oleh pemimpin atau komandannya yang sekaligus bertindak sebagai pawang.
Setiap regu ebeg senantiasa terdiri dari dua kelompok dengan dua orang komandan. Komandan yang satu menaiki kuda kepang berwarna putih, dan yang lainnya menaiki kuda kepang hitam. Yang putih menunjukkan pemimpin menuju kebenaran sejati, sedangkan yang hitam menunjukkan pemimpin kejahatan. Pada trik-trik tertentu dalam permainan kedua pemimpin itu bertemu dan tampak saling menggelengkan kepala. Hal ini merupakan simbolisasi bahwa antara kebenaran dan kejahatan tak dapat bertemu. Kemudian mundur beberapa langkah, maju lagi sesaat ketemu menggelengkan kepala begitulah seterusnya dengan gerak-gerak yang lain.
Ebeg dipentaskan di tempat yang luas seperti; pelataran, lapangan, atau halaman rumah, karena melibatkan cukup banyak pemain. Bahkan tak jarang penontonnya pun terbawa memasuki alam permainan, hingga tanpa sadar ikut menari dan mengalami kerasukan. Waktu permainan biasanya  pada siang hari, dengan durasi antara satu hingga empat jam. Jumlah penari inti biasanya delapan orang, dua orang berperan sebagai Penthul – Tembem,    satu orang sebagai pemimpin, dan tujuh orang sebagai penabuh gamelan. Jadi satu grup bisa beranggotakan 16 orang atau lebih.
Ciri-ciri ebeg antara lain  :
(1)   Pemainnya memakai mekutho (semacam mahkota yang terbuat dari kain).
(2)   Pakaian para pemainnya relatif lebih tertutup.
(3)   Irama yang mengiringi permainan merupakan lagu-lagu Banyumasan. Seperti; ricik-ricik, gudril, eling-eling, lung gadhung dan   blendong.
Kuda ebeg terbuat dari anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda, diberi warna hitam atau putih dan diberi lonceng. Karena itulah, di daerah lain kesenian ini dikenal dengan nama Jaran Kepang yang artinya kuda dari kepang (anyaman bambu).


Penarinya memakai celana yang dilapisi kain batik, tetapi sebatas lutut. Mekutha (mahkota) di kepala, dan sumping di telinga. Kedua tangan dan kaki memakai gelang yang diberi kerincingan. Biasanya pemain mengenakan kacamata hitam. Ada dua orang yang memakai topeng, yang biasa disebut Penthul dan Tembem. Fungsi keduanya adalah sebagai pelawak.  Peralatan instrumen yang digunakan yaitu: gendang, gong bumbung, saron, kenong dan trompet.


b)  Lengger atau Ronggeng
                                          Secara umum, seni lengger atau ronggeng merupakan tarian yang diiringi dengan tembang (nyanyian) dan instrumen gamelan. Yang khas, tariannya tidak diiringi dengan gamelan, tetapi dengan calung, yaitu alat musik yang seluruhnya terbuat dari bambu wulung, baik gambang, saron, gong maupun suling. Baik untuk irama ‘laras pelog’ paupun ‘laras slendro’-nya. (Koderi, 1991:61). Satu-satunya alat yang bukan bambu adalah kendhang (gendang) yang tetap dibuat dari kayu dan kulit sapi.
                                          Lengger sering diasumsikan sebagai tarian rakyat kecil yang terlalu vulgar, cenderung porno. Hal ini disebabkan banyaknya gerakan bodor (pelucu/pelawak) yang memancing birahi, sehingga sering mengundang amor (cinta rahasia/perselingkuhan). Kesan yang menimbulkan image yang salah ini sudah terlanjur melekat di hati masyarakat. Tetapi sebenarnya dulu lengger justru merupakan seni tari tingkat atas. Pernyataan  Koentjaraningrat yang dikutip Budiono Herusatoto (2008:218), menyebutkan bahwa kesenian tayub bukan hanya sebagai kesenian rakyat, melainkan juga seni pertunjukkan di kalangan priayi dan bahkan di kalangan kraton Jawa.
                                          Buku History of Java, karya Thomas Stamford Raffles menyebutkan bahwa hampir semua daerah di pulau Jawa memiliki jenis tarian ini. Hal ini dibuktikan dengan nama-nama dari masing-masing daerah yang menamakan jenis tarian ini dengan istilah gandrung, ronggeng, tledhek/ledhek, tandhak, tayub, lengger dan ronggeng, (Budiono Herusatoto, 2008:217).
                                          Dalam Serat Sastramiruda dan Serat Centini disebutkan pula bahwa tayub sudah ada pada zaman Majapahit sampai Demak. Bahkan pada zaman Mataram, Panembahan Senopati mengutus putrinya, Rara Pambayun menjadi penari tayub guna memikat dan mengalahkan Ki Ageng Mangir yang membangkang dan tidak mengakui kekuasaan Mataram, (Budiono Herusatoto, 2008:217).
c)   Begalan

Istilah begalan, berasal dari kata begal, artinya perampok. Istilah begalan dalam tradisi Banyumas menurut Supriyadi (1993:6) bukan berarti merampas barang orang lain, melainkan menjaga keselamatan apabila nanti ada roh-roh jahat datang mengganggu. Begalan diartikan dengan ucapan kebegalan sambekalanipun, maksudnya dijauhkan dari segala mara bahaya. Tradisi ini dilaksanakan sebagai syarat atau krenah/ pengruwat guna menghindari segala kekuatan-kekuatan gaib yang mengancam keselamatan kedua mempelai.
Tradisi begalan dilaksanakan apabila seseorang mempunyai hajat mengawinkan anak sulung dengan anak sulung, anak bungsu dengan anak sulung, atau anak bungsu dengan anak bungsu. Perkawinan semacam itu dalam tradisi Banyumas merupakan suatu pantangan. Oleh karenanya jika perkawinan tetap akan dilangsungkan, perlu diadakan begalan guna menyingkirkan segala bentuk gangguan yang mungkin terjadi. Begalan biasanya dilakukan pada siang atau sore hari (Koderi, 1991:55).
Sebenarnya seni begalan pada zaman dahulu diadakan oleh para demang, yang kekuasaannya kala itu adalah mutlak selayaknya raja. Setiap perintahnya harus segera dilaksanakan. Karena itu, rakyat beranggapan bahwa seni begalan merupakan warisan dari para leluhur Banyumas yang tidak boleh ditinggalkan. Bahkan karena sangat taatnya, seseorang yang sebenarnya tidak mampu, memaksakan diri dengan berbagai cara untuk bisa melaksanakannya. Fungsinya pun bergeser dari sekedar upacara dalam rangka memohon keselamatan (ruwatan) menjadi sarana untuk memperolah kebanggaan dan dan pujian. 
Pertunjukkan begalan tidak memerlukan tempat yang khusus atau mewah. Tidak perlu mendirikan panggung, cukup di halaman rumah, tanpa dekor. Tata pakaian dan tata rias sangat sederhana. Pakaian cukup baju koko hitam, celana komprang hitam, stagen dan sabuk, kain atau sarung, sampur dan iket wulung (hitam). Sedang perlengkapan yang dipergunakan yaitu wlira dan brenong kepang.  Wlira yaitu alat yang berwujud pedang kayu dan dipergunakan sebagai pemukul. Panjang wlira satu meter, tebal dua centimeter dan lebar empat centimeter. Bahan yang dipergunakan dari ruyung atau pohon pinang. Pembawa wlira adalah si begal dari pihak mempelai wanita dengan nama Suradenta. Pengantar mempelai laki-laki yang membawa peralatan-peralatan brenong kepang bernama Surantani atau Jurutani (Supriyadi,1993:10-12)
Brenong kepang berupa sepikul alat-alat dapur. Masing-masing alat-alat dapur itu memiliki makna kias tersendiri. Adapun macam-macam alat dapur tersebut yaitu wangkring atau pikulan, ian dan ilir, cething, kukusan, kalo, tampah, sorok, centong, irus, siwur, kendil, pala pendem, pala gumantung, dan seikat padi. Kebiasaan orang Banyumas, sebelum pertunjukkan dimulai didahului dengan mengadakan (menyajikan) sesajen dengan membakar kemenyan disertai pembacaan mantra-mantra. Maksud sesajen itu supaya selama hajat dilaksanakan dan waktu mempelai disandingkan terhindar dari berbagai gangguan. Macam-macam sesajian ini biasanya diletakkan di tempat yang tidak terjangkau oleh pengunjung atau tamu. Sering ditempatkan di bagian dapur atau dekat mempelai disandingkan.
Jalannya pertunjukkan, kedua penari Suradenta dan Surantani dengan membawa peralatannya masuk sambil menari ke tempat pentas diiringi gendhing ricik-ricik. Setelah gending suwuk (berhenti), salah satu penari, biasanya Suradenta, memperkenalkan diri, menceritakan maksud dan tujuannya mengadakan begalan. Penari berdialog menanyakan nama dan maksudnya, lalu minta gendhing Gunungsari. Di sinilah Surantani menjelaskan panjang lebar sanepa (makna kias) dari semua isi brenong kepang. Intinya berisi nasehat untuk mempelai berdua dalam membangun rumah tangganya agar nantinya langgeng terhindar dari berbagai cobaan hingga kakek-kakek nenek-nenek.
Saat terjadi pertengkaran mulut, diiringi gendhing Pisang Balik. Pada waktu gendhing suwuk, pertengkaran berbuntut perkelahian diiringi gendhing Renggong Kulon. Perkelahian diakhiri dengan pemecahan kendil yang berisi beras kuning, pertanda rejeki bagi mempelai kelak akan senantiasa melimpah, kemudian isi brenong kepang diperebutkan oleh penonton. Mereka meyakini, bila mendapat barang dari brenong kepang akan mendapat sawab (berkah). Alunan gendhing Eling-eling Banyumasan mengakhiri opera begalan ini (Wawancara tanggal 21 Nopember 2009 dengan Dibyo Suwignyo, pelaku Suradenta pada tradisi begalan di Notog, Banyumas).
Tampak jelas seni begalan di Banyumas memiliki kekhasan tersendiri. Bahkan upacara seperti ini tidak dijumpai di daerah lain yang biasanya melakukan ruwatan dengan pertunjukkan wayang.
Gatotkaca
d)  Wayang Kulit  ’gagrag’ Banyumas
Wayang purwa (kulit) seperti bentuknya yang sekarang  adalah hasil rekonstruksi/ciptaan Walisanga yang telah melalui proses penyempurnaan dari bentuk aslinya. Wayang purwo kuno sudah ada sejak zaman Mataram kuno, seperti yang tertera pada relief-relief candi di Jawa Tengah dan candi-candi Jawa Timur zaman Majapahit.
                             Secara etimologi, kata ’wayang’ berasal dari kata ’ayang-ayang’ (bayang-bayang) atau ’wewayangan’ (bayangan) yang berwujud dan berwarna hitam/gelap. Wujud tersebut terbentuk dari bayangan benda yang terkena sinar/cahaya lampu blencong. Wayang hanyalah sebagai lambang atau simbol dari hidup dan kehidupan manusia. Wayang dibuat oleh manusia yang difungsikan sebagai alat untuk menggambarkan watak dan sifat manusia dalam kehidupan. Wayang dapat pula menjadi alat untuk retrospeksi dan introspeksi diri.  
Ki Sugino Siswocarito
                              Ciri utama gambaran watak wayang purwa terlihat pada warna cat muka/wajah tokoh-tokoh wayang yang bersangkutan, (Soekatno, tanpa tahun:29). Adapun warna-warna wajah tokoh-tokoh wayang tersebut meliputi:
(1)   Warna merah menggambarkan watak angkara murka atau dalam bahasa Jawa dur angkara. ’Dur’ berasal dari kata ’drusila’/ ’dursila’ (jahat, buruk, bodoh) dan ’angkara’ (loba, tamak, pemarah).
(2)   Warna hitam menggambarkan watak ksatria. ’Ksatria’ artinya bersifat jujur, berani karena benar, bertekat besar untuk menegakkan kebenaran, dan pemaaf.
(3)   Warna kuning emas menggambarkan watak mulia, budi pekerti halus, penyayang kepada sesama makhluk Tuhan.
(4)   Warna putih menggambarkan kesuciah hati, pikiran jernih, dan bijaksana, yang dimiliki tokoh tersebut.
(5)   Warna kelabu/abu-abu menggambarkan watak slewuh (dari kata mengsle lan owah). ’Mengsle’ (menyimpang) dan ’owah’ (gampang berubah-ubah) berarti ’setengah-setengah’. Setengah putih dan setengah hitam berarti abu-abu diartikan sok pintar, berlagak suci, suka mencela, penakut dan tidak percaya diri.

Ciri lainnya dari wayang purwa terlihat pada bleger (bentuk tubuh) wayang. Menurut Budiono Herusatoto (2008:189) ada lima ciri utama pada bleger, yaitu:
(1)   Golongan raksasa, umumnya menggambarkan watak yang dur angkara atau drusila/ dursila.
(2)   Golongan ksatria, umumnya menggambarkan watak jujur dan ikhlas  atau legawa.
(3)   Golongan pandhita (pendeta), umumnya menggambarkan watak suci dan bijaksana.
(4)   Golongan dewa, umumnya menggambarkan watak mulya (mulia).
(5)   Golongan punakawan (para abdi), umumnya menggambarkan watak yang ngemong (mengasuh), tut wuri handayani (menjaga dan mendorong semangat), memberi nasihat dan petunjuk dan hidup sederhana.
Seni Pewayangan di daerah Banyumas diperkirakan telah ada sejak zaman Majapahit. Hal ini didasarkan atas asal-usul pemerintahan di daerah Banyumas yang bermula ketika Raden Baribin, putra Prabu Brawijaya IV di Majapahit, singgah di Banyumas saat menuju Pajajaran. Dalam kesempatan itu, Raden Baribin juga menyebarkan kebudayaan, termasuk seni wayang, (Koderi, 1991:66). Disebutkan pula bahwa pakem pedalangan gagrag Banyumasan diawali tahun 1920 dengan dimotori oleh dalang dari Desa Menganti, Gombong bernama Ki Cerma yang kemudian dikenal dengan sebutan Ki Dhalang Menganti.


Ciri pewayangan gagrag Banyumasan menurut Ki Sugino Siswocarito, dalang kondang asal Banyumas, dalam wawancara di Ajibarang, Minggu, 8 Nopember 2009, antara lain:
(1)   Saat pementasan akan dimulai, buka kelir, pegunungan dicabut, tokoh yang muncul sebagai pembuka walau sekedar muncul sekilas adalah sosok wayang keputren yang diiringi emban (limbuk).
(2)   Tokoh punakawan terdiri atas Semar, Gareng, Petruk dan Bawor. Versi Surakarta dan Yogyakarta tokoh Bawor tidak ada, adanya Bagong.
(3)   Dialog punakawan menggunakan bahasa cablaka Banyumasan (ngapak-ngapak).
Fungsi wayang purwa di samping sebagai ekspresi kebudayaan juga merupakan media pendidikan, informasi dan hiburan. Sebagai media pendidikan karena isinya banyak memberikan ajaran kepada manusia, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Wayang banyak mengandung unsur pendidikan terutama dalam hal penanaman budi pekerti, mental, dan watak.
Penayagan Wayang Kulit
Wayang menjadi media informasi karena sifatnya yang sangat komunikatif. Dengan demikian sangat tepat digunakan untuk mengadakan pendekatan kepada masyarakat, memberikan informasi tentang masalah-masalah kehidupan dan seluk-beluknya. Sedangkan fungsi wayang sebagai media hiburan, karena pertunjukannya dapat disajikan dalam berbagai macam keperluan sebagai tontonan yang menghibur (Soekatno, tanpa tahun:1).   

UPACARA ADAT BANYUMAS


        

 Adat  Banyumas
            Masyarakat Jawa termasuk Banyumas, dikenal sebagai masyarakat yang gemar melakukan selametan. Semacam tradisi makan bersama keluarga dan masyarakat sekitar dalam rangka hajat tertentu, dengan jenis hidangan tertentu pula sesuai hajat yang diinginkan. Jika diterjemahkan, berbagai bentuk slametan itu dimaksudkan untuk memohon dihindarkan dari berbagai gangguan dalam menjalani suatu fase kehidupan. Juga dapat dimaknai sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah dan kemudahan yang telah diberikan. Menurut M. Koderi (1991:114-131), biasanya selamatan semacam ini muncul  pada upacara adat yang berhubungan dengan lingkaran hidup, yaitu; kelahiran, kitanan, pernikahan, dan kematian.  


(1)  Upacara Kelahiran
                                             Beberapa tradisi dilakukan masyarakat dalam menyambut kelahiran seorang anak manusia. Upacara selamatan pra-kelahiran pun digelar dengan berbagai harapan positif terhadap bayi yang hendak lahir. Biasanya  upacara itu berupa kenduri, semacam acara makan bersama masyarakat sekitar dengan hidangan tertentu sesuai usia janin dalam kandungan. Ketika janin masih berusia tiga  bulan dalam kandungan, diadakan selamatan jenang bening, bubur sumsum, dan nasi punar. Lalu ketika janin berusia empat bulan, dilakukan selamatan dengan sebutan ngupati. Wujudnya berupa ketupat, gudeg, nasi pecel, tumpeng, enten-enten dan ketan. Lalu pada masa kehamilan tujuh bulan, ada selamatan lagi yang disebut mitoni atau ningkebi dengan upacaranya disebut tingkeban. Bahkan ketika usia kehamilan mencapai sembilan bulan ada selamatan lagi yang disebut mrocoti. Makanan atau masakan yang diperlukan antara lain: jenang procot, kupat, nasi golong, bulus angrem, dhawet, dan lain-lain.
                                                Perubahan mencolok terjadi pada proses kelahiran bayi. Jika dahulu peran dukun bayi sangat dominan dalam membantu kelahiran, kini perannya digantikan oleh tenaga medis; bidan dan dokter kandungan. Meski begitu di beberapa wilayah pinggiran, keberadaan dukun bayi masih  dibutuhkan masyarakat. Terutama untuk melakukan perawatan berupa pijat urut bayi pada minggu-minggu awal kelahiran.


Satu tradisi khas Banyumas yang masih terpelihara hingga kini berkaitan dengan kelahiran bayi adalah penyimpanan ari-ari atau tali pusat bayi yang tidak dikubur sebagaimana di daerah lain. Setelah dipotong, baik dengan alat tradisional berupa welat (bilah bambu yang ditipiskan sedemikian rupa hingga menjadi tajam seperti pisau) yang telah dibaluti kunyit, maupun pisau dan gunting, tali pusat itu dimasukkan ke dalam kendhil (periuk dari tanah) yang masih baru. Kemudian ditutup dengan daun pisang raja, ditaburi kembang telon (kantil, mawar, melati), minyak wangi, garam, jarum, benang, gereh pethek (sejenis ikan asin) dua ikat sirih keris dan jambe serta kemiri. Juga disertakan kertas bertuliskan huruf abjad Arab, Latin dan Jawa. Baru di atasnya ditutup dengan cobek dari tanah. Selanjutnya, kendhil tersebut dihanyutkan di sungai, dengan maksud agar kelak anak tersebut gemar merantau. Ada pula yang digantung di laur rumah, agar kelak anaknya sendiri yang menghanyutkan. Namun juga ada yang ditanam (dikubur) oleh ayahnya sendiri. Saat menanamnya pun mengikuti aturan, harus berpakaian rapi, ari-ari digendong dengan selendang dan dipayungi. Setiap hari kelahirannya (weton) ari-ari ditaburi bunga telon.


               Saat sisa usus bayi yang melekat pada pusar mengering dan lepas, sering disebut puput puser. Menurut adat, bila bayi laki-laki, lubang pusernya disumbat dengan dua buah mrica agar kelak menjadi lelaki sejati. Bila bayinya perempuan, lubang pusar disumbat dengan ketumbar. Sore harinya biasanya diadakan upacara selamatan dengan hidangan terdiri dari nasi dan janganan (sayuran), jenang merah putih, baro-baro dan jajan pasar. Sedangkan sesajinya berupa golong lima yaitu ikan, padupan, bunga cempaka dan uang logam,  ditempatkan di takir (daun pisang dibentuk bundar).
(2)  Upacara Sepitan/ Sunatan/ Khitanan
                                                Anak laki-laki yang menginjak usia sekitar 12 -14 tahun, biasanya dikhitan sebagai tanda sudah baliq. Upacara sunatan biasanya dilakukan dengan memasang tarub,  disaksikan oleh para famili, tetangga dan warga desa lainnya. Dahulu yang menyunat anak dilakukan oleh dukun sepit. Biasanya sunatan pada pagi hari (subuh). Sebelumnya anak yang mau disunat disuruh berendam selama kurang lebih satu jam agar darahnya tidak banyak keluar. Apalagi jaman dahulu, pengobatan masih sangat sederhana. Alat yang digunakan si dukun dahulu dari welad (sembilu), kemudian menggunakan pisau kecil atau pemes.
                                                Anak yang baru dikhitan, biasanya tidak boleh banyak bergerak dan tidak mandi cukup disekah (diusap pakai lap basah), agar bagian luka yang disunat tidak kena air, sehingga cepat sembuh. Anak yang bersangkutan juga harus menjalani puasa ngasrep  (makanan tanpa garam, gula, dan cabai). Pantangan itu bertujuan agar darah tidak keluar dari luka, dan cepat kering.
                                                Anak-anak yang disunat biasanya mendapat hadiah dari sanak famili ataupun para undangan dan teman sebaya. Hari-hari penyelenggaraan sunatan bagi si anak biasanya dilakukan dengan memilih hari baik, bukan hari pantangan. Demikian pula dengan pemilihan bulan yang didasarkan pada perhitungan tertentu sehingga dianggap baik untuk melaksanakan hajatan. Bulan yang dianggap baik untuk mengadakan hajatan pada umumnya adalah bulan Besar (Dulhijjah), Mulud (Rabi’ulawal), Jumadilakhir, Rajab dan Ruwah (Sya’ban).


Mantenan


(3)  Upacara Perkawinan
Hal-hal penting dalam tata urutan upacara perkawinan menurut tata urutan Jawa sebagai berikut :
(a)    Utusan, merupakan proses penyelidikan dengn menanyakan status si gadis. Yang menjalankan tugas ini dinamakan congkokog.
(b)   Melamar, pembicaraan resmi yang disampaikan utusan orang tua pihak laki-laki dengan maksud melamar di rumah orang tua si gadis.
(c)    Srah-srahan atau bawa besanan, yaitu menyerahkan uba rampe (barang-barang) kepada keluarga calon penganten wanita oleh keluarga calon penganten pria. Biasanya dilakukan dua atau tiga hari sebelum hari perkawinan.
(d)   Siraman, yaitu upacara memandikan calon penganten wanita. Upacara ini biasanya dilakukan sehari sebelum akad nikah berlangsung. Waktunya menjelang tengah hari atau sekitar jam sebelas siang. Tujuan siraman untuk menyucikan secara jasmani dan rohani karena pada hari berikutnya calon mempelai akan melaksanakan salah satu tugas suci dalam hidup di dunia, yaitu palakrama, akad nikah (Suwarna Pringgawidagda, 2003:1).
(e)    Rias Pengantin, yaitu merias kedua calon pengantin sebelum upacara panggih atau sebelum upacara akad nikah. Tugas merias dilakukan oleh ahli perias pengantin wanita yang sering disebut dukun penganten. Busana yang digunakan pengantin putri biasanya berupa kain batik, stagen, rimong cinde, baju kebaya, dan selop. Busana dan perlengkapan pengantin pria yaitu kemeja putih lengan panjang, kain jarit (bebed), stagen, sabuk bora, epek timang, rompi, dasi kupu-kupu, jas bukak warna hitam, selop dan blangkon nodang Banyumasan.
(f)    Upacara Akad Nikah, merupakan inti dari semua rangkaian upacara perkawinan. Akad nikah yang menentukan sah tidaknya suatu perkawinan, biasanya dilakukan dengan mengundang penghulu. Umumnya pelaksanaan akad nikah (ijab qabul) bersamaan dengan upacara adat perkawinan, dan acara pesta walimahan. Dalam upacara panggih, setelah ijab qabul, diteruskan dengan: memutus benang lawe, menginjak telur, tuntunan, menanam (nandur),   rebutan panggang, suap-suapan, sungkeman, dan diakhiri acara makan untuk para tamu atau undangan (Thomas Wiyasa Bratawidjaja, 2000: 38).
Salah satu tradisi khas Banyumas dalam upacara perkawinan adalah pagelaran begalan. Pentas ini semacam ruwatan yang dimaksudkan untuk menghilangkan segala bentuk hambatan yang mungkin menghadang kehidupan mempelai. Selanjutnya tentang begalan akan dibahas tersendiri.
(4)  Upacara Kematian
                                                Tata upacara kematian di daerah Banyumas nampak adanya akulturasi kebudayaan zaman animisme, Hindu-Buddha dengan Islam. Pengaruh pra-Islam cukup kuat pada tradisi ini. Jika menurut tuntunan agama Islam yang dijalankan oleh mayoritas masyarakat perawatan jenazah terdiri atas empat hal pokok, yaitu; memandikan, mengafani, menyolatkan, dan menguburkan, dalam praktiknya masih ada prosesi lain yang dilaksanakan. Yaitu menaburkan kembang setaman, beras kuning, dan uang logam di sepanjang perjalanan jenazah dari kediaman sampai ke makam. Sebagian kembang disebar di atas gundukan pemakamannya. Kelapa muda yang telah dipotong salah satu ujungnya sampai berlobang, diletakkan dekat nisan. Ada pula yang memberi sesaji dengan membakar kemenyan dan air dalam kendi di atas gundukan tanahnya.  
                                              Tradisi lain yang juga masih dilestarikan dalam rangka upacara kematian ini adalah kenduri nyusur tanah, semacam acara pembacaan mantra yang dilanjutkan dengan sesaji pada malam harinya. Kenduri juga diadakan pada hari ke-3, ke-7, ke-40 dan hari ke-100, bahkan hari ke-1000 dari hari kematian, karena menurut kepercayaan, pada hari-hari tersebut arwah orang yang sudah meninggal masih berada di sekitar rumah.
                                              Ketika Islam masuk adat tersebut dibiarkan tetap berjalan, tetapi isi dan tata caranya dimasuki ajaran agama Islam. Seperti mantra-mantra diganti dengan doa dan tahlilan atau bacaan Al-Qur’an. Sampai saat ini, tradisi dengan nuansa Islam tersebut masih berjalan.
                                              Bertakziah atau melayat adalah berkunjung ke tempat keluarga yang terkena musibah kematian. Maksudnya untuk membantu atau meringankan beban penderitaan keluarga yang ditinggalkan.

BAWOR DAN WONG BANYUMAS


Bawor  ; Amin Collection


Bawor, Simbol Wong Banyumas
                                       Di kalangan masyarakat Banyumas, tokoh Bawor dalam pewayangan menjadi ikon penting. Penetapan secara tidak tertulis ini bermula dari ide Bambang S Purwoko, salah satu tokoh pemerhati kebudayaan Banyumas pada tahun 1987, dan direstui Bupati Banyumas kala itu, Djoko Soedantoko. Hal ini terungkap dari wawancara yang dilakukan dengan Bambang S Purwoko tanggal 18 November 2009.
            Tokoh Bawor dalam pakem pedalangan Layang Purwacarita yang menjadi pedoman dasar  cerita (pakem) pedalangan gagrag (gaya, model) Banyumasan, diceritakan sebagai buah ciptaan dari bayang-bayang Semar, bukan anak keturunan Semar. Konon, Bawor diciptakan oleh Sang Hyang Tunggal dari bayang-bayang Semar untuk menjadi teman seperjalanan menuju tempat tugasnya di ngarcapada (alam dunia versi wayang).
            Secara etimologis, ‘Bawor’ berasal dari bahasa Kawi yaitu ‘Ba’ artinya ‘sunar’ (cahaya atau sinar)  dan ‘Wor’ artinya awor (campur). Artinya campuran dari cahaya terang dan gelap. Cahaya terang yang terhalang oleh suatu benda sehingga bercampur dengan cahaya gelap dan memunculkan bentuk berupa bayang-bayang. (Budiono Herusatoto, 2008:198)

            Bentuk tubuh Bawor mirip dengan bentuk tubuh Semar yang nyaris bulat (tambun). Kepala Bawor berambut bkoak, jidat nonong, perut bulat berpusar bodong, suaranya besar dan berat, namun dalam setiap penampilannya selalu menjadi tokoh yang dihormati dan pendapatnya dipercaya oleh adik-adiknya; Gareng dan Petruk.

Orang Banyumas ?

            Secara umum menurut budayawan Ahmad Tohari (Rini Fidiyani, 2008:88) yang menjadi ciri khas lageyan (pola tingkah)  Bawor menggambarkan watak :
1.      Sabar lan narima. Meski dalam cerita sosok ini sering menjadi bahan tertawaan karena wujud fisiknya yang jelek dan suara khasnya, sering disepelekan orang lain, ia digambarkan tetap sabar tak pernah marah. Bahkan dengan keluguannya, ia selalu memberikan ide-ide cemerlang dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.
2.      Berjiwa ksatria. Sosok ini dikenal selalu berbicara jujur,  toleran, rukun, suka membantu orang lain, dan selalu mendahulukan kepentingan bersama.
3.      Cancudan dan ringan tangan. Bawor digambarkan sebagai sosok yang  rajin dan cekatan dalam setiap tindakannya.
4.      Cablaka, lahir batinnya terbuka terhadap pertimbangan yang matang dari apa yang diucapkannya secara spontan dengan bahasa yang lugas tanpa tedeng aling-aling atau basa-basi.
            Orang Banyumas mengaku dirinya seperti Bawor karena filosofi sifat dan sikapnya tersebut. Hal ini antara lain terbentuk oleh faktor adoh ratu cedhek watu (jauh dari raja dan hanya dekat dengan batu). Artinya, jauh dari tata pergaulan kraton, hanya dekat dengan kehidupan alam yang keras. Bicaranya saja dengan bahasa Jawa kluthuk (bersahaja, asli kuno), sing pating mblekuthuk (saling menimpali adu keras seperti suara air mendidih). Lageyane, anggeren kumpul toli bleketupuk (kebiasaannya bila sudah berkumpul sesama wong Banyumasan lalu asyik  berbicara dengan akrab sehingga tidak ingat sekitarnya). Bila sudah seperti itu, tentu tidak ada lagi unggah-ungguh (sikap sopan santun) yang sesuai dengan tata krama.
            Bawor yang dijadikan teladan bagi wong Banyumas dan menjadi simbol masyarakat digambarkan sebagai sosok dengan sifat sabar, rajin, jujur, dan ksatria. Terlepas dari sifat buruknya yang meminta-minta (clamit), sifat bersahaja semacam itulah yang menjadi cerminan wong Banyumas.
Dr. Tanto Sukardi, M. Hum, dosen sejarah lokal UMP tidak setuju bila tokoh Bawor dianggap sebagai simbol wong Banyumas. Sifat buruk clamit itulah yang menurutnya tidak sesuai dengan sifat dasar masyarakat Banyumas (hasil wawancara tanggal 28 Oktober 2009). Senada dengan itu, Subur Widadi yang adalah seorang dalang juga menolak penokohan Bawor sebagai simbul masyarakat Banyumas. Menurutnya, yang tepat dijadikan simbol adalah tokoh Bima, yang dikenal gagah berani dan bersifat ksatria (Rini Fidayani, 2008: 89-90). Meski demikian, tokoh Bawor tetap dianggap sebagai ikon Wong Banyumas sampai saat ini.

PEMBABAKAN SEJARAH BANYUMAS


  1. Kebudayaan Banyumas
            Jenis Budaya Banyumas yang dapat diungkap dan disajikan secara ringkas meliputi babad atau sejarah, tradisi, seni dan cagar budaya. Pembabakan atau periodesasi cerita rakyat yang diyakini memiliki fakta disusun secara kronologis adalah sebagai berikut.
1)   Sejarah Banyumas Prakolonial
            Budiono Herusatoto (2008:31-49) mendeskripsikan sejarah Banyumas prakolonial dalam kronologi dan pembabakan sebagai berikut :
 a)   Babad Pasir Luhur Zaman Hindu
Babad Pasir Luhur merupakan awal dari percaturan sejarah lokal dan menjadi sumber legalitas dari para elit penguasa di wilayah barat daya Jawa bagian tengah, yang kini bernama Banyumas. Babad Pasir Luhur menuturkan kisah dari zaman Kerajaan Pakuan Parahiyangan (Pajajaran) di Jawa Barat bagian timur sejak pemerintahan Sri Prabu Langgawesi Dewa Niskala (1466-1474), yang kemudian dilanjutkan oleh puteranya Sri Prabu Linggawastu Ratu Purana Jaya Dewata (1474-1513). 
            Sri Prabu Linggawastu memiliki empat putera, yaitu :
(1)   Raden Harya Banyak Catra.
(2)   Raden Harya Banyak Blabur.
(3)   Raden Harya Banyak Ngampar.
(4)   Dewi Rena Pamekas.
            Cerita Kamandaka (Lutung Kasarung atau Banyak Catra) merupakan identitas penting sebagai alat penelusur silsilah Pasir (yang merupakan salah satu wilayah di bagian barat Purwokerto) dengan Pajajaran. Menurut silsilah Babad Pasir, yang menjadi Adipati Pasir Luhur hanya sampai pada keturunan keenam, yang dimulai dari Adipati Banyak Catra (Kamandaka), Adipati Banyak Wirata, Adipati Banyak Rama, Adipati Banyak Kesumba, Adipati Banyak Belanak dan Banyak Thole. Setelah masa penyebaran Islam, pada generasi kelima (Banyak Belanak), Pasir Luhur berada di bawah pengaruh Demak. Dengan demikian babakan zaman Hindu dan kekuasaan Kerajaan Majapahit berakhir dan memasuki zaman pra-Islam.
            Pasir Luhur yang notabene Islam saat itu, membantu dalam penyebaran Islam dan pembangunan Masjid Demak. Karena jasanya yang dianggap cukup besar, Banyak Belanak diberi gelar Pangeran Senapati Mangkubumi I oleh Sultan Demak.
                  b)   Babad Wirasaba I Zaman Hindu
Babad Wirasaba menceritakan asal-usul Jaka Katuhu dan Raden Paguwon (Adipati Wirahudaya) yang saat itu menjadi Adipati I di Kadipaten Wirasaba I (abad ke-15). Wilayah Kadipaten Wirasaba I saat itu merupakan bagian wilayah Kerajaan Majapahit II (1429-1522), tepatnya pada masa pemerintahan Prabu Kertabumi-Brawijaya V (1468-1478). Sampai saat wafatnya Adipati Wirahudaya, Kadipaten Wirasaba I merupakan kadipaten yang tentram dan makmur.
Ketika Adipati Anom Wirautama menjabat Adipati II, Kadipaten Wirasaba I itu, wilayahnya hingga batas Gunung Sindoro-Sumbing. Kadipaten Ageng Wirasaba selalu ambal-tinambal (berganti-ganti), dipimpin oleh putera, wayah, buyut, canggah, wareng (lima keturunan trah Wirautama I), yaitu Adipati Wirasaba III, Raden Jaka Hurang, bergelar Adipati Wirautama II, Adipati Wirasaba IV, Raden Jaka Surawin bergelar Adipati Wirautama III, Adipati Wirasaba V, Raden Jaka Tambangan bergelar Kiai Raden Adipati Surautama, dan Adipati Wirasaba VI, Raden Jaka Suwarga, bergelar Kiai Adipati Wargautama I.
                  c)   Babad Pasirbatang Zaman Islam
   Setelah zaman Hindu berakhir (keturunan kedelapan trah Kamandaka, Adipati Banyak Belanak), Pasir Luhur berada di bawah kekuasaan Demak. Didampingi Pangeran Makedum Wali dari Demak, Banyak Belanak berhasil mengembangkan agama Islam sampai ke Tanah Pasundan (Parahiyangan). Rakyat di daerah Kelundhung Bentar, Endralaya, Batulaya, Timbanganten, Ukur, dan Cibalunggung berhasil di Islamkan.
Setelah zaman Adipati Banyak Belanak, trah Kamandaka lenyap akibat ulah putranya sendiri, Raden Arya Banyak Thole yang membangkang dan murtad kembali memeluk Hindu. Ia membunuh ayahnya sendiri dengan cara dikubur hidup-hidup saat tengah sakit. Karena alasan itu, Kadipaten Pasirbatang diserbu pasukan Demak, dan ia melarikan diri.
Patih dari Adipati Banyak Belanak dan sempat juga menjadi Patih dari Adipati Banyak Thole, yang bernama Banyak Geleh alias Patih Wirakencana, diberi kekuasaan penuh untuk mewakili Sultan Demak, menggantikan jabatan sebagai Adipati Pasir. Sejak itulah dalem Kadipaten Pasirluhur pindah dan nama wilayahnya disebut Kadipaten Pasirbatang. Praktis garis keturunan/silsilah keluarga kerajaan pun berganti, dan dimulai dari Adipati Wirakencana tersebut.    
d)   Babad Wirasaba II Zaman Islam
   Pada zaman Kraton Pajang abad ke-16 (1546-1586), tepat setelah masuknya era Islam, yang menjadi Adipati Wirasaba adalah Kiai Adipati Wargautama. Ia memiliki lima putera; Raden Ayu Kartimah, Ngabehi Wargawijaya, Ngabehi Wirakusuma, Ngabehi Wirayuda, dan Raden Rara Sukartiyah. Disebutkan,  Raden Ayu Kartimah dikawinkan dengan Raden Jaka Kaiman yang berasal dari trah keturunan Kadipaten Pasirbatang, dari silsilah Pangeran Senapati Mangkubumi II (Adipati Arya Wirakencana) yang diangkat anak dan juga sebagai murid dari Ki Tolih.   
   Sejak tahun 1582, Jaka Kaiman  (Adipati Wargautama II) menggantikan Kiai Adipati Wargautama. Ia membagi  Kadipaten Wirasaba II  menjadi  empat wilayah. Selanjutnya keempat wilayah tersebut diberikan kepada saudara-saudara iparnya (putera Adipati Wargautama I), sedangkan ia sendiri ditetapkan oleh Sultan Hadiwijaya sebagai Wedana Bupati yang menkoordinir keempat wilayah itu. Karena tindakannya membagi wilayah kadipaten menjadi empat wilayah itu pula, ia kemudian diberi gelar sebagai Adipati Mrapat,  oleh rakyat. Artinya, orang yang membagi menjadi empat.
                                   Empat wilayah pembagian dari kadipaten Wirasaba II adalah  :
(1)  Daerah Wirasaba, utara sungai Serayu-Pegunungan Perahu (Sokaraja Lor, Wirasaba, Kali Merawu) diserahkan kepada Ngabehi Wargawijaya, yang kemudian dibangun menjadi Kabupaten Purbalingga.
(2)   Daerah Merden, asal kata wedhen, mredhen; pesisir laut (Kali Citanduy, Pegunungan Kendeng, pesisir Laut Kidul) diserahkan kepada Ngabehi Wirakusuma, yang kemudian dibangun menjadi Kabupaten Cilacap.
(3)   Wilayah Banjar Pertambakan (kali Merawu, dataran tinggi Dieng, pegunungan Kendheng) diserahkan kepada Ngabehi Wirayuda, yang kemudian dibangun menjadi Kabupaten Banjarnegara.
(4)   Sedangkan Adipati Wargautama II mendapatkan wilayah Kejawar (selatan pegunungan Perahu, Ajibarang, Wangon, Sampang, Tambak, Kali Bodo) yang kemudian dibangun menjadi Kabupaten Banyumas. Adipati wargautama II kemudian membangun ibu kota kabupaten di sebelah barat Kejawar. 
2)  Sejarah Banyumas  Masa Kolonial
                  a)  Banyumas Zaman VOC
         Pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645) kabupaten-kabupaten di wilayah barat dijadikan sebagai lumbung (gudang logistik). Daerah-daerah penghasil padi itu terbentang dari Nusawungu sampai Kawunganten  yang cukup banyak menghasilkan padi guna memenuhi kebutuhan pangan prajurit Mataram yang melakukan penyerbuan ke pusat kekuasaan Kompeni Belanda (VOC) di Batavia (Budiono Herusatoto, 2008:65).
Disebutkan pula bahwa  Kabupaten Banyumas dipimpin oleh Bupati Banyumas IV, Mertayuda (putera Mertasura/Janah II)  ikut serta dalam perjuangan Sultan Agung melawan VOC, yaitu ketika melakukan penyerbuan ke Benteng Belanda pada tahun 1628 dan 1629. Atas peranan pentingnya itu, Mertayuda diberi gelar Tumenggung. Sejak itulah sejarah Banyumas muncul dalam kerangka sejarah Jawa.

b)  Banyumas Zaman Kolonial Belanda
Kekuasaan Belanda di Banyumas merupakan imbas dari Perang Diponegoro. Ketika berkecamuk perang tersebut  antara tahun 1825 sampai 1830, seorang lurah prajurit bernama Singadipa, Wedana Ajibarang, menjadi andalan Pangeran Diponegoro. Perjuangan heroiknya adalah saat berhasil menghancurkan benteng Margalayu milik Belanda di daerah Karangbolong, dengan mengerahkan kekuatan 600 prajurit (Tim DHC BPP-JSN 45 Banyumas, 2004:2-3).
 Perang Diponegoro berakhir pada tahun 1830. Menurut Purnawan Basundoro (2009:4), ketika perlawanan Pangeran Diponegoro bisa dipadamkan (dengan tipu muslihat Belanda), Belanda menderita kerugian yang amat besar. Dari segi finansial mereka telah menanggung beban untuk biaya perang sebesar 30.000.000 Gulden, belum termasuk biaya khusus untuk keperluan militer mereka yang berjumlah tidak kurang dari 2.000.000 Gulden. Jumlah korban jiwa selama peperangan tersebut juga luar biasa banyak. Tidak kurang dari 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa serta tidak kurang dari 7.000 serdadu pribumi tewas. Kurang lebih 200.000 rakyat Jawa juga tewas, yang menyebabkan penduduk Yogyakarta menyusut separuh seusai peperangan tersebut.
Dengan pertimbangan itu, Belanda beranggapan bahwa segala biaya dan kerugian yang dikeluarkan oleh Belanda juga menjadi tanggung jawab kedua kerajaan yang dibelanya. Belanda tidak mau begitu saja melepaskan Surakarta dari persoalan ini, walaupun sebenarnya urusan pemberontakan Pangeran Diponegoro adalah persoalan antara Kerajaan Yogyakarta dengan Belanda.
Kerugian sangat besar yang diderita oleh Belanda hampir seluruhnya dibebankan kepada pihak kerajaan. Sedangkan kerajaan sendiri tidak memiliki uang untuk menebus kerugian Belanda tersebut. Sebagai gantinya, Belanda minta sebagian wilayah yang menjadi kekuasaan kerajaan. Yaitu wilayah mancanegara barat terdiri atas Banyumas, Bagelen, dan wilayah mancanegara timur yang mencakup Kediri, Madiun.
Sebagai langkah awal dalam rangka pengambilalihan wilayah mancanegara, pemerintah kolonial Belanda membentuk komisi urusan tanah-tanah kerajaan (Commisie ter Regeling der Zaken) di Surakarta.  Sebagian wilayah Kerajaan Surakarta akan ikut diambil alih oleh Belanda, walaupun sebenarnya Pangeran Diponegoro berasal dari Kerajaan Yogyakarta. Alasannya, selama berlangsung perang Diponegoro terpaksa mereka juga harus melindungi Kerajaan Surakarta.
Pada tangal 24 Mei 1830, sebelum diperoleh kesepakatan mengenai pengambilalihan tanah-tanah mancanegara tersebut, salah seorang anggota komisi, J.J. Sevenhoven, secara sepihak menunjuk Residen Pekalongan M.H. Hallewijn mempersiapkan penyelenggaraan pemerintahan sipil di Banyumas dan distrik-distrik di sekitarnya. Ketika Hallewijn tiba di Banyumas pada tanggal 13 Juni 1830, kepala perwakilan sementara pemerintahan Belanda di Banyumas, Borger, yang merupakan anak buah Residen Tegal van Poel, tidak mau mengadakan serah terima jabatan dengan alasan tidak mendapat perintah dari atasannya. Walaupun demikian ia tetap mau menjalankan setiap perintah dari penguasa yang baru.
Di Banyumas, persiapan pengambilalihan pemerintahan berlangsung terus tanpa seijin Susuhunan di Surakarta. Pada tanggal 15 Juni 1830, Hallewijn minta kepada seluruh bupati di wilayah Banyumas untuk menyerahkan piagam pengangkatannya sebagai bupati dari Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Baru pada tanggal 22 Juni 1830, pemerintah kolonial Belanda mengadakan perjanjian dengan raja di Surakarta. Dengan perjanjian ini maka secara resmi wilayah mancanegara barat diserahkan kepada pemerintah kolonial Belanda.
Pemerintah kolonial Belanda tampaknya masih cukup baik hati kepada Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta, dengan memberikan kompensasi atas diambilnya daerah mancanegara. Kompensasi bagi pengambilalihan  wilayah Banyumas sebesar 90.000 Gulden. Uang tersebut diberikan kepada  Kerajaan Surakarta sebesar 80.000 Gulden dan kepada Kerajaan Yogyakarta sebesar 10.000 Gulden. Sejak saat itu, wilayah Banyumas berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda (http://basundoro.blog.unair.ac.id/2009/01/31/sisi-terang-kolonialisme-belanda-di-banyumas/).