Total Tayangan Halaman

Jumat, 23 September 2016

FULL DAY SCHOOL ?



Image result for gambar dunia pendidikan
Refleksi Miladiyah Susanti
Bagong merah padam. Mata beloknya memancar garang. Gigi geliginya gemeletuk menahan gelegak amarah. Diseretnya tangan Petruk, lalu didorongnya keras hingga terjerembab di hadapan Romo Semar yang tengah berbincang dengan Gareng di pendopo padepokan.
Babarblas ndak pantas kelakuanmu kali ini, Kang! Guru besar Padepokan Romo Semar, acuan bagi sistem pendidikan manusiawi terbaik di negeri ini, menjadikan wajah bocah cantrik sebagai alas tanda tangan? Sungguh ndak patut dilihat!” Bagong geram.
Terkejut, Gareng bangkit bertanya, “Ada apa to ini, Gong?”

“Petruk ini dikenal berilmu tinggi. Orang melihat, kuncirnya tegak lurus ke langit, pertanda lurus pemahaman pengetahuan dan ilmunya. Kata-katanya didengarkan orang karena bersahaja. Ide-idenya diiyakan, diyakini selalu berwawasan. Padepokan ini jadi percontohan full day school berkarakter kemanusiaan dan moral ketuhanan, sebagian besar karena andilnya. Tapi lihat apa yang dilakukan sebelum hari ini, ketika ia diberi kesempatan berbicara di luar sana! Ia berteriak lantang agar jam sekolah di seluruh negeri diperpanjang menjadi sehari penuh sebagaimana di Padepokan Romo Semar. Lha, sontak  banyak guru, sekolah, bahkan orang tua yang tegang urat. Para pakar lintas ilmu pun silang pendapat,” tutur Bagong emosi.
“Sudah lama full day school berjalan baik di Padepokan kita. Bukankah patut ditularkan ke sekolah-sekolah?” Petruk membela diri.
“Kau juga masih akan membela diri atas tindakanmu hari ini yang menjadi viral di medsos? Foto saat kau tanda tangan dengan alas jidat bocah itu?,” Bagong meradang. “Kau yang memberitahuku bahwa wajah itu lambang tertinggi harga diri, kehormatan seseorang. Jadi karena aku nyablak maka harus berhati-hati bicara, tidak menyentuh,  bahkan mengarahkan telunjuk ke muka orang.”
Gareng menengahi. “Memberi teladan dengan perbuatan lebih kuat pengaruhnya daripada dengan ucapan. Kanjeng Nabi mendidik dengan kasih sayang. “Sesungguhnya (kasih sayang)-ku kepada kalian laksana (kasih sayang) seorang ayah kepada anak-anaknya,” (HR. Abu Dawud). Jadi berhati-hatilah berperilaku !”
Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan,” (QS. an-Naml:88). Kalian anak-anakku, camkan itu!” pungkas Romo Semar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar