Togog tergopoh-gopoh berjalan keluar rumah sambil mengepit erat map biru. Wajahnya kusut. bibirnya cemberut, pantulan isi hati yang sedang sengkarut. Beberapa puluh meter dari pintu rumah, datang Gareng yang juga terlihat sedang gelisah.
“Kebetulan
ketemu, aku mau ke rumah Wa Togog!” sapa Gareng.
”Wah,
aku sedang terburu-buru mau ke rumah Guru Sangkuni. Kalau sampai telat, pasti
aku gagal lagi jadi PNS,” jawab Togog sambil terus berjalan.
“Sebentar
saja, Wa! Ini tentang anakku Kompleng yang habis dikeroyok temannya saat sedang
pelajaranmu?” sergah Gareng.
“Yang
penting si Kompleng ndak apa-apa.
Lukanya ndak serius dan sudah
diobati. Sekarang ini deadline
untukku mengumpulkan berkas-berkas, bukti pengabdianku sebagai guru honorer
selama 20 tahun untuk kepentingan ferifikasi. Inilah ujung asaku bisa diangkat
menjadi PNS, Reng,” kata Togog memelas.
“Wa
Togog kok nyepelekke. Kompleng itu anakku,
Wa. Aku mau tahu, bagaimana mungkin saat jam pelajaran kok dia dihajar sama
teman-temannya? Apa yang Wa Togog lakukan waktu itu?” Intonasi Gareng meninggi.
