Total Tayangan Halaman

Selasa, 28 Mei 2013

KORAWA KONTEMPORER



“…apakah mereka tidak berjalan di muka bumi lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, melainkan yang buta ialah hati yang ada di dalam dada” 
Hari ini, sesaat renungkan penggalan kalimat dalam QS. al-Hajj:46 itu. Sekejap alihkan perhatian dari drama tanpa akhir tentang keserakahan para Korawa berebut kekuasaan dan harta, untuk melihat jauh ke dalam diri, lalu bertanya, “Apa kabar hatiku, cermin hidupku? Masihkah bening, atau justru buram sehingga tak lagi bisa menunjukkan kebenaran dari luar sana?”
Hari ini, kita awali dengan merenung. Sebab, merenung (dalam rangka mencari ilmu) sesaat, lebih besar nilainya daripada amal-amal kebajikan yang dikerjakan oleh dua jenis makhluk, yaitu manusia dan jin (HR. Ibnu Majjah).
Hari ini, ketika hampir setiap waktu tersaji pentas drama tentang keserakahan. Ketika kehidupan sosial politik penuh intrik sekedar untuk mendapatkan perhatian, pujian, atau bahkan dukungan sebelum menduduki jabatan publik. Persis yang dilakukan raksasa-raksasa jelek Korawa. Tetapi hari ini, tokoh serakah dan loba itu bukanlah para raksasa Korawa, melainkan para ksatria tampan yang disegani, berpendidikan, memiliki jabatan, dan hampir selalu memiliki trackrecord gemilang.
Patut kita bertanya, kenapa tokoh utamanya berubah wujud? Pejabat pemerintah, wakil rakyat, bahkan para pegawai negeri sipil (PNS), yang belakangan penghasilannya dilipatgandakan dari uang negara. Terhenyak kita menyaksikan betapa sikap rakus dan serakah tak mampu tertutupi seragam kebanggaan atau pakaian mahal. Nafsu mereka membuncah saat menghadapi jamuan makan. Tanpa malu, berebut mengambil, lalu melahap seluruh hidangan yang tersaji. Tak peduli dengan tangan kanan, tangan kiri, atau bahkan dua tangan maju bersamaan, sambil duduk atau berdiri, mereka terus menjejali mulut dengan makanan, sampai-sampai kucing dan tikus got pun tak bisa menemukan sisa makanan yang bisa dijilati dari piring bekas mereka. Mereka sangat kelaparan, walau perutnya sudah buncit nyaris pecah pun kenyang tak datang.
Hari ini, patut jika kita bertanya, “Apanya yang salah?” Dahulu rakus, kasar, tamak, loba, dan sifat-sifat buruk lainnya diidentikkan dengan orang bodoh tak berpendidikan. Sampai saat ini sistem pendidikan kita sudah terlalu sering diubah dalam rangka perbaikan. Standard nilai maupun materi pelajaran bagi anak sekolah pun semakin tinggi yang diproyeksikan mampu bersaing menghadapi tantangan dunia masa depan. Fasilitas pendidikan juga semakin mudah dan terjangkau. Jika belasan tahun lalu ijazah S1 bisa diraih hanya bila mengikuti proses panjang di menara gading universitas/perguruan tinggi di beberapa kota besar, sekarang bisa didapat ‘cuma’ dengan mengikuti ‘les’ seminggu sekali di banyak tempat bahkan sampai di kecamatan. Dahulu program wajib belajar hanya sembilan tahun,  ke depan target 12 tahun. Semestinya sifat rendahan itu juga tergerus.(Mila)

Kamis, 11 April 2013

BACA


Rasulullah SAW pertama kali menerima wahyu dengan diperintahkan untuk membaca atau Iqra’ (bacalah).  Perintah ini memberi  pemahaman pada kita bahwa kunci dari mempelajari ilmu adalah dengan membaca. Permasalahannya adalah budaya baca kita masih rendah. Di lapangan,  minat baca di Indonesia begitu rendah kalah jauh dari Singapura atau Malaysia yang jumlah penduduk lebih sedikit, bahkan luas wilayahnya jauh lebih kecil. Faktanya, penduduk Indonesia lebih banyak mencari informasi dari televisi dan radio ketimbang buku atau media baca lainnya. Laporan bank Dunia no.16369-IND (Education in Indonesi from Crisis to recovery) menyebutkan bahwa tingkat membaca usia kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya mampu meraih skor 51,7 di bawah Filipina (52,6), Thailand (65,1) dan Singapura (74,0). Data Badan Pusat Statistik tahun 2006 menunjukan bahwa penduduk Indonesia yang menjadikan baca sebagai sumber informasi baru sekitar 23,5%. Sedangkan yang menonton televisi 85,9% dan mendengarkan radio 40,3%.


Baca SMS ya, tapi baca buku…cape dech!!!.
Fakta di atas tentu memprihatinkan, mengingat budaya membaca sangat erat kaitannya dengan kultur sebuah generasi. Jika generasi sekarang memiliki minat baca rendah, bukankah sulit mengharapkan mereka menjadi teladan bagi anak cucunya dalam membudayakan membaca? Padahal kalo kita pikir, Negara kita tak miskin-miskin amat untuk menyediakan buku atau bahan bacaan ke berbagai pelosok negeri ini. Nyatanya, Indonesia memiliki banyak penerbit, penulis, ilmuan, peneliti, dan toko-toko buku dari kelas atas sampe kelas bawah. Tetapi, tetap saja masyarakat kita menganggap buku itu adalah makanan yang mahal, dan tidak penting untuk dibaca. Masyarakat kita, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai orang tua enggan untuk membaca apalagi menulis. Sejak dahulu, bangsa kita sudah mewarisi budaya lisan dari pada  budaya literer. Alasan lebih praktis dan mudahlah yang membuat masyarakat kita mudah percaya dan dibodohi.

Jumat, 05 April 2013

MENYOAL HARI JADI BANYUMAS



            Penetapan hari jadi Banyumas sejak 1990, berangkat dari seminar pada 14 November 1989, bahwa tanggal 6 April 1582 adalah hari kelahiran Banyumas, masih menyisakan silang pendapat. Hal ini berlatar keminiman dan ketiadaan sumber atau data sejarah kelahiran daerah tersebut.  Pemakalah ternyata  tidak mampu menyajikan/menemukan prasasti penetapan hari lahir daerah itu. Fakta otentik yang sering dicari adalah prasasti zaman Hindu dan Buddha.
             Jadi, apa yang disimpulkan  Prof Dr Sugeng Priyadi M.Hum, guru besar Ilmu Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto, bahwa penetapan tanggal itu sebagai hari jadi tidak tercantum dalam data mana pun sejarah Banyumas, bahkan tidak lebih dari hasil perkiraan yang tidak mendasar.
              Lebih lanjut Profesor yang mendalami sejarah Banyumas ini menyatakan bahwa sulit untuk menerima pendapat bahwa peringatan sejarah hari jadi semata-mata simbolis,  mengingat peristiwa sejarah selalu bersifat faktual. Jika hari jadi tiap 6 April itu diperingati, tetapi tidak berdasar fakta sejarah maka kita memperingati hari jadi yang konyol. Lagi pula, peristiwa sejarah tidak sama dengan peristiwa sastra yang memang sering dibuat dalam bentuk simbol.